Rabu, 06 November 2013
Hati Yang Tergantung Di Pohon.
Di sebuah rawa di pinggir hutan, hidup sepasang buaya. Keduanya hidup bertetangga dengan sepasang kera yang tinggal di pohon jambu mete. Saat keduanya haus, kedua kera tersebut akan menyeruput segarnya air rawa. “ Teman, apa tidak kedinginan tiap hari berendam di air terus?” goda kera jantan pada buaya. “ Enak lho berendam di air,” jawab buaya dengan tenang. Ya, hampir setiap hari binatang-binatang tersebut bercanda bahkan kadang-kadang terlihat kera duduk di atas punggung buaya. Tidak ada rasa takut sedikitpun tergambar di wajah kera. Pada suatu saat terjadi kemarau yang sangat panjang. Sepasang buaya tersebut sangat kesulitan mendapatkan makanan. Sehari makan, berhari-hari mereka berpuasa. “ Suamiku aku lapar sekali. Bagaimana kalau kera tetangga kita itu kita tangkap. Tubuhnya tentu sangat enak,” rayu buaya betina pada suaminya. Sudah hamper satu minggu tidak ada satu makananpun yang masuk ke perut keduanya. “ Istriku, aku sedang berpikir bagaimana cara menjebak mereka.” Tiada berapa lama kemudian buaya jantan menyungging senyum. Pagi itu, buaya jantan sedang bermain air bersama kera. Saat kera di dekat mulutnya, buaya dengan cekatan menerkamnya. Kera kaget bukan kepalang. Seumur-umyr baru kali ini ia masuk mulut buaya. “ Teman, tolonglah aku. Istriku sudah beberapa hari sakit. Kata tabib, hanya engkaulah yang mampu mengobatinya,” kata buaya jantan mengiba “ Teman, kalau aku mampu, aku pasti akan membantumu. Katakan saja tidak usah sungkan-sungkan,” kata kera sambil menyembunyikan kegugupannya. “ Kata tabib, istriku akan sembuh apabila diobati hati seekor kera!” “ Ha!!!” kata kera terkejut. Ia sadar ada bahaya yang mengancam jiwanya. Ia lalu berpikir bagaimana caranya agar terlepas dari buaya tersebut. “ Maaf seribu maaf, teman. Hatiku ketinggalan di atas pohon. Aku akan mengambil dulu sebentar. Lihat di pohon itu. Yang berwarna merah dan bergoyang-goyang kena angin adalah hatiku!” kata kera sambil menunjuk buah jambu mete berwarna merah. Kebetulan saat itu hanya satu jambu mete yang berwarna merah. “ Baiklah, sekarang ambil dulu hatimu yang tergantung di atas pohon!” kata buaya sambil melepas cengkeramannya. Sesampainya di atas pohon, dilemparnya buah mete yang telah masak tersebut. Kera sadar, alasan buaya hanya dibuat-buat. Buaya-buaya di bawah ingin memangsanya karena berhari-hari kelaparan. Berkat kecerdikannya, akhirnya kera lepas dari sergapan buaya yang kelaparan
SI BUTA DAN SI BUNTUNG
Kerajaan Wotan Mas dulunya sangat makmur dan rakyatnya hidup tenteram. Akan tetapi semenjak dikuasai kerajaan Poh Pitu rakyat Wtan Mas hidupnya menjadi tidak tenang. Setiap saat mereka was-was. Setiap saat bisa saja pengawal kerajaan Poh Pitu membawa mereka ke istana sebagai santapan raja. Ya, Raja Tanpa Welas sangat suka daging manusia. Sebelum menjadi santapan raja, mereka dijebloskan ke dalam penjara dan diberi makanan yang enak-enak agar badan mereka gemuk.
Pada suatu hari, pengawal kerajaan sampai di desa dimana Si Buta tinggal. Penduduk yang lain sudah melarikan diri semua, kecuali Si Buta. Akhirnya ia dibawa ke hadapan Raja Tanpa Welas.
“ Wahai sang raja, daging hamba tidaklah enak. Hamba takut sang raja tertular penyakit hamba sehingga menjadi buta seperti hamba.” kata Si Buta memelas.
“ Pengawal!!! Kenapa orang buta sepeti ini dibawa ke hadapanku. Jebloskan dia ke penjara!!”
Akhirnya Si Buta dijebloskan ke dalam penjara. Di sana ia bertemu dengan orang-orang dari berbagai pelosok desa menunggu giliran di makan raja.
“ Kita senasib Saudaraku. Kita sama-sama mempunyai badan yang tidak lengkap. Pengawal raja dengan mudah membawa kita ke tempat ini. Pernahkah melihat pemandangan disekitarmu, Saudaraku?” tiba-tiba seseorang menyapa Si Buta.
“ Tentu saja belum. Aku sejak lahir sudah seperti ini. “
“ Maukah aku tolong untuk melihat dunia?”
“ Apakah ada orang yang bisa menyembuhkan orang buta seperti aku? Untuk keluar dari penjara saja tidak mugkin.”
Orang yang menyapanya lantas mengusapkan tanganya yang tersisa ke mata Si Buta. Betapa terkejutnya Si Buta. Matanya sekarang dapat untuk melihat. Dihadapannya berdiri sesosok orang tua bertubuh kurus kering dengan kedua tangannya yang hamper tidak ada.
“ Inilah dunia. Pengap dan sempit. Tetapi kita bisa melihat dunia yang luas dan menyenangkan bila mampu mengalahkan raja yang lalim itu.”
“ Terima kasih Saudaraku. Anda telah memperlihatkan dunia kepadaku. Dulu, saat di desa, hampir tiap hari aku mendengar kelaliman Raja Tanpa Welas hingga aku punya keinginan mengalahkan raja lalim tersebut. Tetapi apa dayaku. Aku tidak bisa melihat apa-apa di sekelilingku. Sekarang baru terlaksana niatku!!”
Dengan tenang Si Buta berjalan ke jeruji besi. Tangan-tangannya yang kekar membuka jeruji penjara. Dengan mudah penjaga penjara dilumpuhkannya. Orang-orang yang akan dijadikan santapan raja dikeluarkannya semua. Kemudian ia menuju istana raja.
Pengawal istana mengepungnya dengan senjata tombak dan pedang di tangan. Pertarungan berlangsung sangat seru. Kekuatan Si Buta melebihi kekuatan orang biasa. Tubuhnya kebal dari tusukan senjata apapun. Akhirnya pengawal istana dapat dikalahkan.
“ Panglima, tangkap orang kampung itu!!!” teriak raja pada panglima perangnya. Lelaki bertubuh tinggi dan tegap meloncat seakan terbang ke arah Si Buta berdiri. Akhirnya terjadi pertempuran yang sengit. Keduanya sama-sama mengeluarkan kepandaiannya masing-masing. Keduanya sama-sama kuat dan tangguh. Tetapi pada suatu kesempatan, pedang Si Buta berhasil mengakhiri perlawanan panglima kerajaan. Di luar istana, orang-orang yang dikeluarkan dari penjara oleh Si Buta bertempur melawan prajurit istana. Mengetahui panglima perangnya tewas, semangat bertempur para prajurit istana menurun. Akhirnya mereka dapat ditaklukan oleh teman-teman Si Buta.
Melihat panglima perangnya tewas kena sabetan pedang Si Buta, kemarahan Raja Tanpa Welas sampai ubun-ubun. Dilibasnya tubuh Si Buta dengan pedang di tangan. Si Buta terlibat pertarungan yang sengit kembali. Pedang Si Buta terlempar saat berbenturan dengan pedang Raja Tanpa Welas. Pada saat yang kritis, dengan segenap kekuatannya, Si Buta mengangkat batu sebesar anak kerbau di sampingnya. Batu tersebut kemudian dilemparkannya ke tubuh raja. Raja Tanpa Welas tidak bisa mengelak. Tubuhnya tertimpa batu sebesar anak kerbau tersebut.
Orang-orang bersorak-sorai melihat kemenangan Si Buta. Ia akhirnya diangkat sebagai raja. Rakyat Wotan Mas akhirnya dapat hidup tenteram dan makmur kembali.
Selasa, 05 November 2013
KIRAM DAN DOMBI
Di kaki sebuah bukit, tinggal seorang nenek dan cucunya, Kiram. Sejak kecil Kiram hanya berteman dengan seekor domba yang berbulu cantik. Bulu-bulunya yang putih memantulkan cahaya saat terkena cahaya matahari dan bergerak melambai-lambai diterpa angin. Kemanapun Kiram pergi, Dombi selalu setia menemaninya.
Pada suatu hari Kiram bangun kesiangan. Seharian mencangkul di kebun, membuat ia tertidur pulas. Bangun tidur, sahabatnya tidak ada di tempat. Dipanggilnya Dombi berulang- ulang. Tetapi tidak ada tanda- tanda Dombi mendengar panggilannya.
“ Maafkan aku Dombi. Aku bangunnya kesiangan. Pasti kamu sedang mencari makan karena aku terlambat bangun”. Mata Kiram mulai memerah menahan tetes air mata yg mulai mengalir.
“Kiram, tidak usah bersedih. Kambingmu mungkin ada di balik bukit. Di sana ada peternakan domba pak Terna. Kamu bisa mencarinya di sana.” kata neneknya lembut.
Hati Kiram sedikit lega mendengar penuturan neneknya. Masih ada harapan untuk bertemu dengan sahabat satu-satunya tersebut. Dengan langkah mantap dan pasti, ia menuju peternakan Pak Terna di balik bukit.
Setelah satu jam berjalan, sampailah ia di peternakan pak Terna. Alangkah terkejutnya Kiram. Dihadapannya bergerombol puluhan bahkan mungkin ratusan domba-domba. Semuanya berbulu putih bersih. Sepintas sangat sulit untuk mencari Dombi di antara ratusan domba-domba tersebut.
“ Hai anak kecil, mau mencuri domba-dombaku ya. Sana pergi!!!” seortang pria berkumis tebal menghardiknya pergi. Kebingungannya buyar sesaat.
“Maaf Pak….maaf Pak. Saya…saya tidak akan mencuri domba Bapak. Saya sedang mencari domba saya yang hilang. Mungkin ada di antara domba-domba Bapak. “
“ Ah tidak usah berdalih. Untung kamu kepergok. Kalau tidak ketahuan pasti kamu telah mencuri domba-domba saya.!!”
Kiram dan Pak Terna bertahan pada pendapatnya masing-,masing. Sampai akhirnta Kiram mengajukan usul pada Pak Terna.
“ Begini Pak, saya akan memanggil domba saya. Kalau ada satu ekor yang menghampiri saya berarti itu domba saya. Apakah Bapak setuju?”
“ Baiklah nak, usulmu boleh dicoba!!”
Keduanya kemudian berdiri bersebelahan, kurang lebih lima puluh meter dari gerombolan domba-domba yang sedang merumput. Setelah mengumpulkan tenaganya, Kiram berteriak lantang memanggil Dombi sahabatnya.
“ Dombiiiiiiii…..Dombiiiiii……Dombiiiiiii!!!!!”
Tidak lama kemudian terlihat seekor domba berlari-lari memisahkan diri dari rombongan dan menuju tempat Kiram berdiri. Domba tersebut kemudian mengendus-endus kaki Kiram seolah sudah lama kenal. Kiram senang bisa bertemu Dombi kembali.
“ Nak, bawalah dombamu. Beri makan yang cukup agar tidak ke sini lagi. Kalau kamu kesepian kamu dan dombamu bisa main ke sini.”
Hari ini Kiram sungguh berbahagia. Menemukan kembali Dombi dan mempunyai sahabat baru lagi, Pak Terna dan domba-dombanya. Sepanjang perjalanan pulang ia bercanda dengan dombanya tersebut. Dombi sesekali berlompatan menimpali canda Kiram.
Langganan:
Komentar (Atom)


