Minggu, 14 Februari 2016

BUKU HARIAN SEORANG TAPOL


            Namaku Parto Giman.  Aku hanyalah seorang guru SD ndeso. Aku tinggal di kampung, di rumah warisan mertua. Sebuah rumah bergaya limasan dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Disini aku juga mengajar membaca, menulis dan menghitung anak-anak miskin di desaku secara cuma-cuma.  Kegiatan sampinganku itu ternyata menarik perhatian Pak Darmo, seorang akivis PKI di kotaku. 
            “ Nak Parto, begini. Besok malam saya menggunakan pendopo ini bisa tidak? Hanya rapat ,” tanya Pak Darmo pada suatu hari. Aku sesaat bingung untuk menjawab pertanyaan Pak Darmo tersebut. Tetapi sebagai seorang pendidik aku mencoba bersikap netral. Kalau hanya untuk rapat saja tidak masalah. Aku pun menganggukkan kepalaku.
            Ternyata, pendopo rumahku tidak hanya untuk rapat tetapi malah menjadi pusat kegiatan partai. Ada latihan menari dan menyanyi. Ada pendidikan kader partai. Tiap hari pendopo rumahku selalu ramai. Tua muda, lelaki perempuan, siang malam hilir mudik tiada henti. Bahkan kegiatan mengajar anak-anak membaca, menulis, dan berhitung ditangani mereka.
            Akan tetapi kegiatan di pendopo rumahku itu menjadi penyebab aku menjadi hidup dari penjara satu ke penjara yang lain. Aku menjadi seorang tapol.   Padahal aku bukan seorang anggota PKI. Saya sholat lima kali sehari. Saya seorang imam di mushola depan rumahku. Walaupun menjadi seorang tapol tetapi aku tapol yang mujur. Aku masih diijinkan membawa buku dan pensil. Aku menjadi punya kesempatan menulis buku harian di tahanan. Menulis buku harian bagi tahanan tapol G30 S ibarat barang mewah.
            6 April 1971 kami tiba di stasiun Cilacap setelah seharian di kereta dari Banten. Keluar dari gerbong, berbaris menuju lapangan terbuka di depan stasiun. Kami disuruh berjongkok sambil meletakkan kedua tangan di atas kepala persis seperti seorang penjahat yang tertangkap basah oleh polisi.  Kata-kata kasar dan jorok dari para sipir penjara Nusakambangan menghentak di telinga kami.
            Beberapa saat kemudian kami diangkut menuju pelabuhan Cilacap.  Perjalanannya sangat singkat, seperti menyeberangi sungai Lusi yang membelah kota kelahiranku. Akhirnya kami mendarat di dermaga Sodong Nusakambangan. Aku ditempatkan di penjara Karang tengah. Sebuah pulau kecil selebar enam kilometer dan panjang dua puluh kilometer. Di kalangan napi kriminal penjara ini konon paling ditakuti.
            Soal makan, di penjara Karang tengah sangat buruk. Setiap hari kami diberi nasi semangkuk kecil, itupun tidak padat, ditambah secuil telur rebus, dengan sayur berupa air asin tanpa isi. Pada hari Minggu kami diberi tambahan  yang menurut sipir penjara bubur   kacang ijo. Menurut kami itu hanyalah air ditambah sedikit gula. Biji kacang ijo hanya satu atau dua bahkan sering tidak ada.
         Hampir tiap hari aku menyaksikan teman-temanku mati. Bisa dipastikan mereka mati kelaparan atau mati karena siksaan atau bahkan karena keduanya. Untuk mengganjal perut kami yang tidak bisa diajak kompromi, aku dan teman-teman sering curi-curi ketela pohon di ladang. Jagung  yang lebih enak sebenarnya juga ada tetapi kami tidak berani resikonya. Pasti ketahuan  oleh mata galak sipir penjara. Ketela pohon tinggal cungkil tanah, ketela pun di tangan.
            Apa pun bisa menjadi makanan asal perut ada isinya dan kuat untuk bekerja rodi. Di penjara Banten aku sudah pernah makan daging ular yang lengket seperti lem setelah dingin.  Aku menjadi tahu akan daging kucing yang berwarna keputihan dengan serat-seratnya yang halus. Kadang-kadang juga ada ayam yang nyasar ke komplek penjara. Ramai-ramai kami akan mengejarnya dan memasaknya.
            Mungkin itu sedikit yang bisa aku ceritakan tentang tempat dan keadaan terakhirku. Semoga saja aku bisa berkumpul dengan keluargaku kembali, orang-orang yang aku sayangi dan cintai. Tubuh senantiasa sehat dan kuat.  Aammiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar