Namaku
Parto Giman. Aku hanyalah seorang guru
SD ndeso. Aku tinggal di kampung, di rumah warisan mertua. Sebuah rumah bergaya
limasan dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Disini aku juga mengajar
membaca, menulis dan menghitung anak-anak miskin di desaku secara
cuma-cuma. Kegiatan sampinganku itu
ternyata menarik perhatian Pak Darmo, seorang akivis PKI di kotaku.
“
Nak Parto, begini. Besok malam saya menggunakan pendopo ini bisa tidak? Hanya
rapat ,” tanya Pak Darmo pada suatu hari. Aku sesaat bingung untuk menjawab
pertanyaan Pak Darmo tersebut. Tetapi sebagai seorang pendidik aku mencoba
bersikap netral. Kalau hanya untuk rapat saja tidak masalah. Aku pun
menganggukkan kepalaku.
Ternyata,
pendopo rumahku tidak hanya untuk rapat tetapi malah menjadi pusat kegiatan
partai. Ada latihan menari dan menyanyi. Ada pendidikan kader partai. Tiap hari
pendopo rumahku selalu ramai. Tua muda, lelaki perempuan, siang malam hilir
mudik tiada henti. Bahkan kegiatan mengajar anak-anak membaca, menulis, dan berhitung
ditangani mereka.
Akan
tetapi kegiatan di pendopo rumahku itu menjadi penyebab aku menjadi hidup dari
penjara satu ke penjara yang lain. Aku menjadi seorang tapol. Padahal aku bukan seorang anggota PKI. Saya
sholat lima kali sehari. Saya seorang imam di mushola depan rumahku. Walaupun
menjadi seorang tapol tetapi aku tapol yang mujur. Aku masih diijinkan membawa
buku dan pensil. Aku menjadi punya kesempatan menulis buku harian di tahanan.
Menulis buku harian bagi tahanan tapol G30 S ibarat barang mewah.
6
April 1971 kami tiba di stasiun Cilacap setelah seharian di kereta dari Banten.
Keluar dari gerbong, berbaris menuju lapangan terbuka di depan stasiun. Kami
disuruh berjongkok sambil meletakkan kedua tangan di atas kepala persis seperti
seorang penjahat yang tertangkap basah oleh polisi. Kata-kata kasar dan jorok dari para sipir
penjara Nusakambangan menghentak di telinga kami.
Beberapa
saat kemudian kami diangkut menuju pelabuhan Cilacap. Perjalanannya sangat singkat, seperti
menyeberangi sungai Lusi yang membelah kota kelahiranku. Akhirnya kami mendarat
di dermaga Sodong Nusakambangan. Aku ditempatkan di penjara Karang tengah.
Sebuah pulau kecil selebar enam kilometer dan panjang dua puluh kilometer. Di
kalangan napi kriminal penjara ini konon paling ditakuti.
Soal
makan, di penjara Karang tengah sangat buruk. Setiap hari kami diberi nasi
semangkuk kecil, itupun tidak padat, ditambah secuil telur rebus, dengan sayur
berupa air asin tanpa isi. Pada hari Minggu kami diberi tambahan yang menurut sipir penjara bubur kacang ijo. Menurut kami itu hanyalah air
ditambah sedikit gula. Biji kacang ijo hanya satu atau dua bahkan sering tidak
ada.
Hampir
tiap hari aku menyaksikan teman-temanku mati. Bisa dipastikan mereka mati
kelaparan atau mati karena siksaan atau bahkan karena keduanya. Untuk
mengganjal perut kami yang tidak bisa diajak kompromi, aku dan teman-teman
sering curi-curi ketela pohon di ladang. Jagung
yang lebih enak sebenarnya juga ada tetapi kami tidak berani resikonya.
Pasti ketahuan oleh mata galak sipir
penjara. Ketela pohon tinggal cungkil tanah, ketela pun di tangan.
Apa
pun bisa menjadi makanan asal perut ada isinya dan kuat untuk bekerja rodi. Di
penjara Banten aku sudah pernah makan daging ular yang lengket seperti lem setelah
dingin. Aku menjadi tahu akan daging
kucing yang berwarna keputihan dengan serat-seratnya yang halus. Kadang-kadang
juga ada ayam yang nyasar ke komplek penjara. Ramai-ramai kami akan mengejarnya
dan memasaknya.
Mungkin
itu sedikit yang bisa aku ceritakan tentang tempat dan keadaan terakhirku.
Semoga saja aku bisa berkumpul dengan keluargaku kembali, orang-orang yang aku
sayangi dan cintai. Tubuh senantiasa sehat dan kuat. Aammiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar