Selasa, 17 November 2015

SURAT BUAT IBU


Bruk!!! Prangggg!!! Ember tempat cucian gelas dan piring jatuh ke lantai. Isinya berhamburan. Gelas, piring, dan mangkok pecah berkeping-keping. Detak jantungku seakan berhenti, Telingaku seakan mendengar detak jantungku detak demi detak. Kalau aku bercermin, wajahku mungkin seperti kain putih. Pucat. Takut dimarahi Ibu. Bayangkan saja. Hari itu aku mencuci sekitar satu lusinan perlengkapan makan siang. Maklum keluargaku termasuk keluarga besar. Adikku ada tiga dan kakak satu. Setiap selesai  makan aku mencuci semua bekas makan orang tuaku dan adik-adikku bersama kakakku. Saat itu hujan baru saja berhenti. Lantai yang menghubungkan rumah dengan tempat aku mencuci piring tentu saja basah. Sudah basah berlumut lagi. Sepertinya lantai depan rumah tersebut saat musim penghujan selalu berlumut. Padahal aku dan kakaku selalu bergantian membersihkan lumut yang menempel dengan menggunakan scraf. Mendengar suara piring dan gelas pecah, ibu tergopoh-gopoh menghampiriku.
 “ Hati-hati kalau hujan, lantainya sangat licin. Ibu saja yang mengambil pecahan-pecahannya,” kata Ibu sambil mengambili pecahan-pecahan yang berserakan di lantai.  Tidak ada tanda-tanda di wajahnya apabila Ibu marah. Syukurlah, Ibu tidak memarahiku. Aku tahu. Ibu orangnya cerewet sebenarnya. Apalagi apabila ada anaknya yang tidak menuruti perintahnya. Beliau tidak berhenti ngomong sebelum anaknya menuruti perintahnya. Aku pun diam saja sambil mengambil pecahan-pecahan piring dan gelas yang ada di sekitarku. Aku ingat, saat Pak De dari Tegal atau yang dari Bekasi dan Kerawang pulang ke Gombong, kami pasti disuruh menemui mereka di rumah Simbah.
“ Pak De dan Bu De Bangi ke sini lho. Kalian ke Simbah dulu. Nanti setelah selesai masak, Ibu menyusul.”kata Ibu saat Pak De yang dari Tegal ke Gombong. Rumah simbah dengan rumah kami sebenarnya tidak jauh. Hanya melewati makam desa yang kalau malam, sangat gelap. Maklum saat itu listrik belum terpasang menyeluruh di desaku.  Kami yang sedang asyik bermain bersama teman-teman kadang menolak menemui mereka. Nah, Ibu pasti akan lama untuk menceramahi kami yang bandel ini. Saat kami ada yang sakit, Ibu pasti akan mengomel apabila kami malas minum obat atau menangis tidak bisa menahan sakit. Aku masih ingat, saat kuku ibu jari kaki kakakku membusuk gara-gara saat berkemah memakai sepatu yang basah terus menerus. Tiap sore hari sebelum mandi, ibu merendam kaki kakakku tersebut dengan air hangat agar kukunya cepat terlepas. Kakak menahan tangis untuk menghindari omelan Ibu.
 Apakah Ibu masih ingat peristiwa tersebut? Apakah hari ini Ibu sehat? Saya harap Ibu senantiasa diberi karunia kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Saya tidak bisa selalu menemani Ibu. Jarak Blora Gombong cukup jauh Bu. Semoga Ibu  tidak merasa sepi semenjak kepergian Bapak. Ibu, saat aku pulang lebaran 2011 kemarin aku agak kaget. Rambut Ibu sudah memutih semua. Mungkin Ibu agak kaget, hidup tanpa Bapak. Mungkin juga Ibu merasa ada beban yang berkaitan dengan kami, anak-anakmu, yang belum menjadi orang seperti yang diharapkan Bapak sama Ibu. Maafkan kami Ibu. Ibu, terus terang aku sangat rindu bertemu denganmu. Sudah hampir satu tahun kita tidak bertemu. Aku terakhir bertemu denganmu saat akan wisuda S2ku. 
Kalau tidak salah  aku membawa anak-anaku ke Gombong terakhir saat anaknya Dik Agus          berumur satu bulan. Saat itu anak ketigaku baru bisa berjalan. Azka, anak nomer tigaku, latihan berlari dari ruang depan ke ruang belakang sambil mengambil jajanan di meja tamu. Sekarang sudah bisa berlarian kesana kemari dan mau masuk TK Kecil. Kedua kakaknya juga sering menanyakan bagaimana kabarnya Simbah. Mereka kalau liburan kerapkali minta liburan di Gombong. Bisa main ke Waduk Sempor atau benteng Van der Wijk kata mereka. Kalau di Blora mereka sudah pada jenuh. Blora obyek wisatanya belum dikelola dengan baik Bu. Lebaran kemarin aku juga belum bisa membawa anak dan istriku mudik ke Gombong. Anak-anak baru saja sembuh dari sakit. Aku dan istriku khawatir membawa mereka melewati  perjalanan yang melelahkan. Terutama anak ketigaku. Ia akan minta pulang dan nangis apabila tubuhnya sudah merasa lelah. Selain itu keuangan kami sedang kacau balau. Untuk pulang ke Gombong paling tidak membutuhkan uang sebanyak satu jutaan. Bagi orang lain mungkin sedikit. Tetapi bagi kami, saat itu uang sejumlah itu sangat berharga.
Oh iya Bu, maafkan aku Ibu. Saat memperbaiki makam Bapak aku hanya menyumbang sedikit. Aku tahu Ibu pasti akan menjual sebagian hasil panen padi untuk menambal biaya keperluan tersebut. Sekali lagi aku minta maaf Bu. Anakku baru keluar dari rumah sakit sehingga kami tersedot untuk itu. Terus terang, aku sangat malu kepada Ibu. Dulu, saat kuliah aku pasti minta uang ke Ibu apabila uang bulanan dari Bapak habis. Bapak berpesan padaku uang bulanan hanya sekali per bulan. Saat aku kepepet tentu saja aku hanya bisa meminta kepada Ibu. Walaupun ibu pasti akan kebingungan pada awalnya tetapi pasti aku akan dapat uang saku dari Ibu. Hasil menjual satu karung padi persediaan di lumbung tentunya. Ibu…Ibu, ada saja akal Ibu. Untuk membantu Bapak hampir tiap malam Ibu membungkus kering kentang untuk dijual di warung-warung dan kantin sekolah. Yah, Ibu memang pintar memasak. Kadang Ibu dimintai tolong membuatkan roti apabila ada orang yang hajatan. Bahkan Ibu menjadi juru masaknya.  Walaupun hanya tamatan SD tetapi Ibu keterampilannya seabrek. Ibu sempat juga mengambil kursus menjahit saat kami bertiga kuliah. Terus terang kami termotivasi semangat Ibu untuk terus belajar.

Ibu, jangan bosan membaca surat-suratku ya. Liburan Natal dan Tahun Baru sebenarnya kami ingin berlibur ke Gombong tetapi Hasna harus persiapan untuk mengikuti Pesta Siaga sebagai wakil sekolah. Semoga saat ada waktu dan kesempatan yang lebih luang kami bisa berlibur di Gombong untuk sejenak menemani dan menikmati lezatnya masakan Ibu. Bagaimana kabarnya Mas Bambang? Dik Widi, dik Agus dan dik Herman? Semoga sehat wal afiat dan selalu dalam lindungan-Nya. Amien. Surat dari Blora sekian dulu Ibu. Salam dari Dik Fitri, Faiq, Hasna, dan si kecil Azka. Mohon doanya semoga kami lancar dalam berusaha dan senantiasa  dalam lindungan-Nya. Jaga kesehatan Ibu. Tidur dan makan yang cukup.  Tidak usah berpikir yang aneh-aneh. Kami tidak usah dipikirkan tetapi mohon doanya saja. Selamat Hari Ibu. Wassalam. 


Minggu, 15 November 2015

B U K I T P R


“ Baiklah anak-anak, untuk memperjelas keterangan Ibu tadi, silahkan kalian mengerjakan tugas halaman 24. Dikumpulkan pada pertemuan kita yang akan datang!”  Anak-anak kelas IV SD Tunas Bangsa memperhatikan apa yang ditugaskan gurunya sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas bersiap-siap pulang.
            “ Gus, nanti dikerjakan bareng di rumahku, habis makan siang,” ajak Anto pada seorang anak bertubuh gendut.
            “ Wah, besok-besok saja, aku mau main layang-layang.”
            Beberapa saat kemudian terlihat anak-anak berhamburan dari dalam kelas menuju ke rumahnya masing-masing.
            “ Agus, PRmu sudah dikerjakan? Tiap hari main layang-layang terus!” kata ibunya saat melihat Agus keluar rumah sambil menenteng layang-layangnya.
            Agus menjawab sekenanya pertanyaan ibunya. Ia terus saja ngeloyor menuju lapangan di komplek perumahannya. Ibunya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya tersebut.  Bila sudah membawa layang-layangnya,  bisa seharian di lapangan. Saat matahari terbenam ia baru pulang.
            “ Agus, masak tiap hari seharian main layang-layang.  Memangnya tidak punya PR? Sebenarnya kamu harus mulai bisa membagi waktumu, antara main, belajar, dan istirahat,”  kata Ibunya saat makan bersama.
            “ PRnya sepertinya sangat mudah bagi Agus. Tidak sampai setengah jam pasti selesai,” kata Agus sambil mengambil daging ayam yang paling gemuk di depannya.
            “ Wah berarti anak Bapak pintar. Tapi, PR itu dikerjakan bukan hanya dilihat. Dulu, saat Bapakmu masih sekolah, Bapak sukanya menggampangkan setiap tugas dari Bapak dan Ibu Guru. Bapak merasa tugas matematika yang ditugaskan guru sangat mudah. Ternyata saat dikerjakan tidak semudah seperti yang Bapak kira. Membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya. Coba hitung, kalau satu soal saja membutuhkan waktu setengah jam, berapa jam waktu untuk menyelesaikan sepuluh soal? Bagaimana bila dalam sehari  ada PR dari  2 atau 3 pelajaran?” kata Bapaknya mencoba mengingatkan.     
            “ Alah, Pak….Pak…Agus mau ke kamar, belajar,” katanya sambil meninggalkan Bapak dan Ibunya yang masih makan. Sambil tiduran Agus mencoba membuka-buka bukunya. Perut yang kenyang dan tubuh yang lelah membuat matanya tidak bisa diajak membaca buku. Buku yang dipegangnya akhirnya jatuh menimpa wajahnya. Agus pun melayang ke alam mimpi.
            Satu hari, dua hari, tiga hari, sepulang sekolah Agus selalu bermain layang-layang sampai matahari tenggelam. Sampai pada suatu malam ia terkejut melihat buku-buku catatannnya. Ternyata besok pelajaran Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris yang semua ada PRnya.
            “ Hukumannya bagi yang tidak mengerjakan PR adalah berdiri di depan kelas.,” kata guru Matematika yang juga wali kelasnya tersebut.  Dengan terpaksa malam itu juga ketiga PR tersebut harus selesai. Saat kentongan dari gardu sebelah rumah dipukul 12 kali, Agus baru selesai mengerjakan PRnya. Tanpa membereskan meja belajarnya, ia membungkus tubuhnya dengan selimut merah tebal yang selalu setia menemaninya berjalan-jalan di alam mimpi.
            Keesokan pagi Ibunya dengan susah payah membangunkan anak semata wayangnya tersebut. Setelah mandi dan sarapan pagi dengan wajah menahan kantuk, Agus berjalan menyusuri trotoar menuju sekolahnya.
            “ Waduh, enak juga jadi tukang becak. Jam-jam segini masih molor di atas becak,” gumam batinnya saat melintasi pangkalan becak.
            Dua jam pelajaran dilaluinya dengan lancar. Tetapi saat pelajaran Matematika, Agus tidak kuasa menahan kantuknya. Seperti biasa Bu Ami menyuruh murid-muridnya mengerjakan PR di depan kelas, urut berdasar tempat duduknya.
            “ Wah, aku masih lumayan lama,” gumam Agus sambil meletakkan kepalanya di atas tumpukkan kedua tangannya yang dijadikan bantal. Tanpa ia sadari, ia pun tertidur.
            “ Nomer 19 siapa?” tanya Bu Ami.
            “ Ha…Ha….Ha…Agus Bu!!!” serentak seisi kelas menjawab pertanyaan gurunya.  Bu Ami langsung menatap tempat duduk Agus. Dilihatnya ia masih tertidur dengan pulasnya. Muka Bu Ami merah padam menahan marah.
            “ Agus, maju!”
            Teriakan Bu Ami sontak mengagetkan Agus. Ia pun kebingungan. Joko, teman sebangkunya, mengingatkannya akan perintah Bu Ami tadi. Agus pun maju dengan hati berdebar-debar akibat kesalahannya. Mukanya beraneka warna menahan malu.
            “ Agus, kenapa kamu sampai ketiduran? Apa kamu ikut siskamling tadi malam?” tanya Bu Ami dengan lembut tanpa terlihat marah sedikitpun. Agus pun menceritakan kerja lemburnya tadi malam.
            “ Makanya jangan menunda-nunda mengerjakan sesuatu. Tiap  pulang sekolah, kerjakan dulu PRnya baru bermain. Sedikit-sedikit nanti kalau bertumpuk menjadi bukit lho. Ibu harap, kejadian ini  tidak diulangi kembali. Ya sudah, sekarang kerjakan nomer 19!”
            “ Baik Bu.”
            Sejak saat itu Agus menjadi sadar. Sesuatu yang sedikit apabila dikumpulkan akan menjadi banyak. PR yang sedikit apabila dikumpulkan akan menjadi bukit PR yang mungkin ia sendiri tidak akan sanggup mengerjakan semuanya.







Jalan Samping Rumah


            Rusman tampak mondar-mandir di sebuah klinik bersalin. Ia dan  Mirna, istrinya, sedang menanti kelahiran anak pertamanya. Wajah Rusman tampak kuyu dan lelah. Tepat saat kentongan di pos ronda bertalu  dua kali istrinya masuk klinik bersalin tersebut.       Rusman menemani istrinya yang menahan perutnya yang sangat sakit. Menurut bidan jaga baru pembukaan empat.  Kemungkinan setelah shubuh baru melahirkan.  Bagi Rusman jarum jam di klinik berjalan sangat lambat. Sambil mengelus-elus perut istrinya mulut Rusman tampak komat-kamit membaca doa demi kesehatan dan keselamatan dua jiwa yang sangat disayanginya.
            Sayup-sayup adzan shubuh berkumandang bersahut-sahutan. Istrinya dipindah ke ruang bersalin. Rusman mengiringinya dengan doa dan kepasrahan pada Allah Yang Maha Berkehendak.  Kelahiran, kematian, rizki dan jodoh semuanya sudah diatur olehNya. Kita hanya berusaha dan Allahlah yang menentukan. Tangis bayi dari ruang bersalin mengagetkan Rusman. Air matanya menetes. Bahagia dan cemas campur aduk menjadi satu. 
            “ Pak Rusman, selamat ya. Anaknya ganteng seperti bapaknya. Ibunya juga sehat.” kata dokter Irawati sambil menyalami Rusman.
            “ Alkhamdulillahi robbil ‘alamin. Anak saya laki-laki dok? Sudah boleh saya melihatnya dok?”
            “ Sudah pak. Hanya saja ada sedikit masalah pada anak bapak. Klinik kami tidak mampu menanganinya. Kami akan merujuk ke rumah sakit yang mampu menangani anak bapak.”
            Dug. Serasa ada palu yang menghantam dada Rusman mendengar perkataan dokter yang menangani istrinya tersebut.
            “ Maksud dokter?!!”
            “ Begini Pak. Anak bapak tidak mempunyai lubang anus. Terus terang, kami tidak sanggup untuk menangani pasien dengan kondisi seperti anak bapak.   Rumah sakit-rumah sakit yang lebih besar dengan dokter dan perlengkapan yang lengkap, Insya Allah bisa mengatasi kasus yang diderita anak bapak. Bapak tidak usah khawatir.”

            Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mata Rusman menerawang jauh.

====================

            Seperti biasa setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, Rusman selalu membersihkan dan memanaskan sepeda motornya. Anak-anak sekolah dari arah utara, berkelompok berjalan melalui samping rumahnya. Rusman berhenti sejenak. Anak-anak sekolah menyapanya. Maklum di desa. Tegur sapa antar tetangga sudah biasa.  Sebentar kemudian Rusman melanjutkan mengelus-elus kembali motor satu-satunya tersebut.  
            “ Man, jalan samping ditutup saja,” kata ibu mertuanya saat berkunjung ke tempatnya. Kamar tidur yang dipakai Ibu mertuanya memang persis di samping jalan setapak tersebut. Jalan tersebut awalnya digunakan Rusman dan Mirna, istrinya,  menuju ke rumah tetangga di selatan rumah. Sebenarya ada jalan lain tetapi apabila menggunakan jalan samping rumah tersebut lebih cepat. Tak lama kemudian tetangga-tetangganya menggunakan jalan pintas tersebut. Sekarang jalan tersebut bukan jalan setapak lagi.
            “ Kalau ditutup aku kasihan sama anak-anak yang biasa menggunakan jalan tersebut. Tetapi kalau tidak, rumahku menjadi tempat berseliweran orang-orang dan anak-anak sekolah.  Berisik. Belum lagi besok, saat anakku lahir. Tidurnya pasti tidak akan nyenyak karena sering mendengar suara gaduh dari jalan tersebut.” Hati Rusman berperang antara menutup jalan tersebut atau membiarkannya seperti biasa. 
            Menutup jalan tersebut sangatlah mudah. Tinggal memberi tanaman di ujung-ujung jalan saja, orang-orang dan anak-anak pasti tidak akan berani melaluinya. Hanya saja keberanian Rusman untuk melakukan hal tersebut tidak ada. Jalan tersebut memang di pekarangan rumahnya. Bukan di tanah pekarangan orang lain.  Menutup tanahnya sendiri apa salahnya. Tetapi ia ragu untuk melakukannya.
            “ Kang, sudah siang. Berangkat kerja tidak??!!.” Mirna, istrinya mengagetkannya. Rusman cepat-cepat bergegas   meninggalkan motornya. Dielusnya perut istrinya sesaat. Perut istrinya memang belum tampak besar. Maklum baru usia kehamilan  2 bulan. Ini adalah anaknya yang pertama. Setelah menunggu 6 tahun, mereka baru dikaruniai keturunan.
            “ Sudah siang, nanti terlambat lagi seperti kemarin.” kata Mirna mengingatkannya saat Rusman masih mengelus-elus perut istrinya.
            “ Makan yang banyak lho. Biar anak kita sehat. “
            Rusman bekerja di Kantor Pelayanan Pajak di kota kabupaten. Sebelumnya ia di kantor yang sama hanya di Jakarta. Di kantor, ia juga meminta nasehat kepada teman-temannya.  Dia ceritakan jalan di samping rumahnya sedetil-detilnya. Gunawan dan Catur, temannya satu ruang dengannya mendengarkan dengan seksama.
            “ Kalau menurutku tidak masalah jalan itu ditutup. Kan masih pekarangan kamu sendiri. Mumpung belum lebar ditutup saja. Nanti kalu sudah lebar dan di paving kita tidak enak sama tetangga, “ kata Gunawan dengan logat Surabaya yang masih kental.
            “ Wah, kalau aku tidak setuju. Walaupun itu jalan setapak dan hanya di pekarangan kita, tetap saja jalan tersebut sarana berlalu lalangnya orang. Itu sudah milik umum. Usul saya tidak usah ditutup. Digeser saja, menjauh dari rumahmu,” sambung Catur.
            “ Untuk apa repot-repot menggeser jalan segala.!” kata Gunawan dengan ketus.
            “ Eh dengar ya. Aku punya tetangga. Dulu anaknya meninggal gara-gara tidak punya lubang anus. Kabar-kabar yang berkembang di desa saat itu, gara-garanya dia menutup jalan di dekat rumahnya. Ini seperti kasusnya Rusman. Mumpung belum kejadian, laksanakan saja usulku.” tambah Catur memasang wajah serius.
            “ Itu takhayul. Aku tidak percaya hal begituan. Lahir, mati, rejeki, dan jodoh, sudah ditentukan oleh Allah. Sebagai umat yang taat beragama kita tidak usah percaya pada  hal-hal seperti itu.” kata Rusman.
            “ Percaya atau tidak itu terserah kalian. Apalagi istri Rusman sedang hamil muda. Kata orang tua-orang tua di kampungku, banyak hal yang harus dijauhi saat istri kita hamil dibawah usia 4 bulan. Tidak boleh membunuh binatang, kalau terpaksa membunuh harus menyebut terlebih dulu. Tidak boleh memandang yng jelek-jelek dan yang lain. Sudahlah, kalian pasti tidak akan percaya ini semua.  Terserah. Aku lapar. Aku mau ke warung depan. Kalian pesen apa?”
            Akhirnya obrolan jalan samping rumah tidak menghasilkan solusi apapun. Rusman memandang kepergian Catur ke warung depan dengan pikiran masih berkecamuk. Menutup atau tidak. Menutup berarti harus siap mendengar celoteh para tetangga yang biasa melintas di jalan tersebut  dan mungkin bisa memerahkan telinga Rusman. Tidak menutup berarti Rusman harus bersiap dari omelan ibu mertuanya. Bu Naryo, ibu mertuanya berulangkali menyuruhnya menutup jalan tersebut. Setiap kali berkunjung ke kampung, kangen anaknya, selalu berkomentar kamarnya ramai dan berisik. Apalagi saat anak-anak berangkat dan pulang sekolah. Menggeser jalan sangat mustahil. Pak Sastro yang tanahnya berhimpitan dengan pekarangan Rusman tidak mengizinkan sejengkal tanahnya dibuat jalan. Walau jalan setapak sekalipun. Sebulan yang lalu, Rusman bertamu ke rumah Pak   Sastro untuk meminta izin menggeser jalan setapak di samping rumah. Hanya dada sesak dan telinga yang memerah yang didapat Rusman. Pak Sastro memang terkenal orang paling pelit di kampung Jambusari. 
            Ibunya sebenarnya juga tidak setuju saat dimintai pendapatnya tentang menutup jalan samping rumah tersebut.
            “ Ora usah ditutup Man. Dalan kae pancen dalan cilik tapi dalan kae akeh sing seneng. Ora muter-muter. Tuwa Saring nek arep neng pabrik jam papat esuk metu kono. Cah-cah sekolah ya akeh sing liwat kono. Jajal nek ditutup, Man. Melas mbok wong-wong sing biasa lewat kono. Nutup dalan pada karo nutup rejekimu, Man. Mertuamu ngomel terus ya ben lah. Mengko kan meneng dhewek.” kata Ibunya dengan logat ngapak-ngapaknya.
===================      

            Betapa kagetnya Rusman saat pulang kerja.   Potongan-potongan pohon singkong sepanjang 20 centimeter berjejer rapi membentuk pagar di ujung utara dan selatan jalan bermasalah tersebut. Istrinya tersenyum melihat suaminya yang masih keheranan, Digandengnya tangan suaminya. Rusman menurut saja bagai kerbau dicocok hidungnya.
            “ Ini lho mas. Tadi Ibu nelpon. Dua hari lagi, Ibu akan ke sini. Beliau tanya, apa jalan samping kamar tidur sudah ditutup? Aku jawab belum, mas Rusman belum sempat. Aku malah dimarahi Ibu. Aku disuruh Ibu memagarinya dengan potongan pohon singkong. Mas marah, ya?” tanya Mirna dengan polos.
            “ Ndak apa-apa, buat apa marah. Masak apa hari ini?” tanya Rusman sambil menuju ruang makan. Hatinya sedikit khawatir mendengar omongan temannnya dikantor tadi siang.
            “ Yayang, maem sama Bapak yuk!” kata Rusman sambil mencium dan mengelus-elus perut Mirna.              
    
=================
            Pagi hari saat anak-anak berangkat sekolah, mereka menggerutu karena jalan yang biasa dilaluinya ditutup oleh deretan pohon singkong.
            “ E…EEE…ora ulih liwat kene maning. Dalane wis ditutup nganggo wit budin neng OM Rusman. “
            “ Dadi muter ya. Nek liwat kene padahal lewih cepet ya?!”kata anak-anak saat berangkat sekolah. Walaupun hanya berbeda sekian puluh meter tetapi bagi yang terbiasa menggunakan jalan samping rumah Rusman rasanya jauh. Tidak hanya anak-anak yang kesal jalan pintasnya ditutup. Orang-orang yang biasa menggunakan jalan tersebut juga memasang wajah masam saat akan melintasi jalan tersebut.

SEKIAN………

 Catatan :
 dalan              : jalan                         ora ulih           : tidak boleh
 pancen           : memang                   kene                : sini
 akeh               : banyak                     maning           : lagi
 melas              : kasihan                     wit budin         : pohon singkong
 mengko          : nanti                         meneng           : diam
 dhewek           : sendiri                      wis                   : sudah
nganggo          : memakai                  jajal nek          : coba kalau
arep                 : akan                         neng                : ke
sing                 : yang                          jam papat        : jam empat