Rabu, 17 Februari 2016

Hati Yang Berkarat

Hati terasa letih
Perjalanan makin tertatih
Beban-beban seolah berat menindih

Kaki-kaki terayun lemah
Butir-butir tanah melenguh desah
Mendengar keluh kesah

Jalan Sang Kembara smakin berat
Karat-karat di hati semakin lekat

Lambert, Singa Berhati Domba.

Di sebuah padang rumput tinggal kawanan domba. Mereka cukup makan. Tubuh mereka gemuk-gemuk. Di tengah kawanan domba terlihat seekor singa kecil yang sedang bermain-main dengan anak-anak domba. Berkejaran dan bergulingan. Ya, itulah Lambert. Seekor singa kecil yang kehilangan ibunya saat api meluluh lantakkan hutan tempat Lambert dan kelurganya tinggal. Semenjak kejadian tersebut lambert diasuh oleh kawanan domba tersebut. Ia hidup dan makan seperti domba-domba pengasuhnya.  
            Bentuk giginya yang beda dan kuku-kukunya yang tajam sering membuat Lambert diejek oleh anak-anak domba yang lain.
            “ Domba kok giginya runcing seoerti pisau. Kamu pasti anak serigala.”
            ‘” Domba kok kukunya runcing-runcing seperti kucing. Kamu bukan domba seperti kami kan!!?” ejek bebrapa anak domba pada suatu saat. Lambert hanya diam mendengar celotehan dari beberapa anak domba tersebut.  Ia sadar gigi dan kuikunya memang berbeda. Diteruskanlah ia memakan rumput dan buah-buahan segar.
            Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan, dan tahun telah berganti tahun. Lambert telah tumbuh menjadi anak singa yang kuat. Pada suatu saat kawasan padang rumput  tempat kawanan domba tinggal kedatangan seekor serigala yang sedang kelaparan. Kawanan domba berlarian menyelamatkan dirinya masing-masing melihat  kedatangan serigala.
            Melihat teman-temanya berlarian ketakutan, Lambert marah pada serigala. Yamg keluar dari mulutnya adalah suara auman singa yang sangat keras dan   membuat serigala lari tunggang langgang. Sejak saat itu anak-domba yang suka mengejeknya tidak pernah mengejek Lambert lagi. Mereka malah merasa aman  apabila Lambert ada di sampung mereka.
           


            

Minggu, 14 Februari 2016

BUKU HARIAN SEORANG TAPOL


            Namaku Parto Giman.  Aku hanyalah seorang guru SD ndeso. Aku tinggal di kampung, di rumah warisan mertua. Sebuah rumah bergaya limasan dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Disini aku juga mengajar membaca, menulis dan menghitung anak-anak miskin di desaku secara cuma-cuma.  Kegiatan sampinganku itu ternyata menarik perhatian Pak Darmo, seorang akivis PKI di kotaku. 
            “ Nak Parto, begini. Besok malam saya menggunakan pendopo ini bisa tidak? Hanya rapat ,” tanya Pak Darmo pada suatu hari. Aku sesaat bingung untuk menjawab pertanyaan Pak Darmo tersebut. Tetapi sebagai seorang pendidik aku mencoba bersikap netral. Kalau hanya untuk rapat saja tidak masalah. Aku pun menganggukkan kepalaku.
            Ternyata, pendopo rumahku tidak hanya untuk rapat tetapi malah menjadi pusat kegiatan partai. Ada latihan menari dan menyanyi. Ada pendidikan kader partai. Tiap hari pendopo rumahku selalu ramai. Tua muda, lelaki perempuan, siang malam hilir mudik tiada henti. Bahkan kegiatan mengajar anak-anak membaca, menulis, dan berhitung ditangani mereka.
            Akan tetapi kegiatan di pendopo rumahku itu menjadi penyebab aku menjadi hidup dari penjara satu ke penjara yang lain. Aku menjadi seorang tapol.   Padahal aku bukan seorang anggota PKI. Saya sholat lima kali sehari. Saya seorang imam di mushola depan rumahku. Walaupun menjadi seorang tapol tetapi aku tapol yang mujur. Aku masih diijinkan membawa buku dan pensil. Aku menjadi punya kesempatan menulis buku harian di tahanan. Menulis buku harian bagi tahanan tapol G30 S ibarat barang mewah.
            6 April 1971 kami tiba di stasiun Cilacap setelah seharian di kereta dari Banten. Keluar dari gerbong, berbaris menuju lapangan terbuka di depan stasiun. Kami disuruh berjongkok sambil meletakkan kedua tangan di atas kepala persis seperti seorang penjahat yang tertangkap basah oleh polisi.  Kata-kata kasar dan jorok dari para sipir penjara Nusakambangan menghentak di telinga kami.
            Beberapa saat kemudian kami diangkut menuju pelabuhan Cilacap.  Perjalanannya sangat singkat, seperti menyeberangi sungai Lusi yang membelah kota kelahiranku. Akhirnya kami mendarat di dermaga Sodong Nusakambangan. Aku ditempatkan di penjara Karang tengah. Sebuah pulau kecil selebar enam kilometer dan panjang dua puluh kilometer. Di kalangan napi kriminal penjara ini konon paling ditakuti.
            Soal makan, di penjara Karang tengah sangat buruk. Setiap hari kami diberi nasi semangkuk kecil, itupun tidak padat, ditambah secuil telur rebus, dengan sayur berupa air asin tanpa isi. Pada hari Minggu kami diberi tambahan  yang menurut sipir penjara bubur   kacang ijo. Menurut kami itu hanyalah air ditambah sedikit gula. Biji kacang ijo hanya satu atau dua bahkan sering tidak ada.
         Hampir tiap hari aku menyaksikan teman-temanku mati. Bisa dipastikan mereka mati kelaparan atau mati karena siksaan atau bahkan karena keduanya. Untuk mengganjal perut kami yang tidak bisa diajak kompromi, aku dan teman-teman sering curi-curi ketela pohon di ladang. Jagung  yang lebih enak sebenarnya juga ada tetapi kami tidak berani resikonya. Pasti ketahuan  oleh mata galak sipir penjara. Ketela pohon tinggal cungkil tanah, ketela pun di tangan.
            Apa pun bisa menjadi makanan asal perut ada isinya dan kuat untuk bekerja rodi. Di penjara Banten aku sudah pernah makan daging ular yang lengket seperti lem setelah dingin.  Aku menjadi tahu akan daging kucing yang berwarna keputihan dengan serat-seratnya yang halus. Kadang-kadang juga ada ayam yang nyasar ke komplek penjara. Ramai-ramai kami akan mengejarnya dan memasaknya.
            Mungkin itu sedikit yang bisa aku ceritakan tentang tempat dan keadaan terakhirku. Semoga saja aku bisa berkumpul dengan keluargaku kembali, orang-orang yang aku sayangi dan cintai. Tubuh senantiasa sehat dan kuat.  Aammiin.


Rabu, 10 Februari 2016

Ditolong Kunang-kunang


Di sebuah desa pinggir hutan tinggal keluarga kambing. Tiga anaknya lucu-lucu. Warnanya hitam, coklat dan putih. Gemuk-gemuk tubuhnya dan lincah perangainya. Seperti biasa, setiap pagi mereka mencari makan di pinggir hutan. Akibat kemarau panjang, persediaan makanann di pinggir hutan dirasa kurang.
      Bapak Kambing kemudian mengajak keluarganya masuk ke dalam hutan. Betapa senangnya ketiga anaknya mendengar ajakan Bapaknya. Sudah lama sekali mereka ingin masuk hutan.
      “ Anak-anakku, nanti di hutan kalian tidak boleh pergi jauh-jauh. Kalian harus di dekat Bapak dan Ibu. Mengerti?” kata Bapak Kambing sebelum masuk hutan.
      “ Mengerrtiiii....” jawab ketiga anaknya serempak.
      Si Hitam, Si Putih, dan Si Coklat berlarian masuk hutan. Bapak dan iIbunya tidak bosan-bosannya memperingatkan mereka agar berhati-hati. Bapak dan Ibunya  sadar, banyak hal yang belum diketahui oleh anak-anaknya.
      Mereka asyik makan daun-daun hutan. Setelah perut mereka kenyang, mereka pun duduk-duduk. Karena lelah dan perut kenyang, ketiga anaknya tertidur. Mereka tidur pulas sekali. Bapak dan Ibu kambing menjaga anak-anaknya. Angin hutan yang bertiup sepoi-sepoi, sejuknya suasana hutan,  dan perut  yang  kenyang membuat Bapak dan Ibu Kambing terkantuk –kantuk.
      Tanpa mereka sadari, Si Hitam telah bangun. Perutnya berbunyi terus minta diisi. Dilihat Bapak dan Ibunya tertidur. Dia tidak tega membangunkan mereka. Akhirnya, sendirian dia mencari makan. Tanpa sadar, dia telah jauh meninggalkan Bapak dan Ibunya. Saat akan pulang dia bingung mencari arah. Tanpa terasa air matanya mulai mengalir berjatuhan.  Kemudian dia berdiam di bawah pohon besar. 
      Saat hutan mulai gelap, Bapak dan Ibu Kambing terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya mereka, melihat Si Hitam tidak berada di antara mereka. Berulangkali dipanggilnya Si Hitam. Akan tetapi sia-sia. Si Hitam tidak muncul-muncul. Karena sudah gelap, Bapak Kambing memutuskan untuk pulang. Di rumah, mereka semua berdoa untuk keselamatan Si Hitam.
      Di tengah hutan Si Hitam masih menangis. Takut, sedih, dan merasa bersalah bercampur menjadi satu.
      “ Hitam, janganlah sedih. Mari aku antar pulang. Kebetulan aku tinggal tidak jauh dari tempat kalian. “ sebuah suara tiba-tiba mengejutkannya. Ternyata seekor kunang-kunang.
      “ Terima kasih teman, bagaimana caranya?  Aku tidak tahu jalan.”
      “ Kamu berjalan di belakangku. Ikuti saja cahaya tubuhku. Paham?”
      “ Paham teman.”
      Si Hitam kemudian berjalan mengikuti cahaya kunang-kunang. Cahaya dari tubuh kunang-kunang memudahkan Si Hitam menyusuri gelapnya hutan. Tidak berapa lama, mereka tiba di pinggir hutan. Dari kejauhan terlihat Bapaknya masih berjaga-jaga di depan rumah. Betapa bahagianya saat Si Hitam pulang diantar tetangganya, Si Kunang-kunang.
      “ Terima kasih atas kebaikan Saudara mengantar anakku pulang,” kata Bapak Kambing.
      “ Sudah sepantasnya sesama tetangga saling menolong,” kata Si Kunang-Kunang sambil terbang kembali ke hutan. Akhirnya keluarga kambing dapat berkumpul kembali dan tidur dengan nyenyak.


Kamis, 28 Januari 2016

Udang yang Sombong


            Di suatu lautan terdapat seekor udang yang sangat sombong. Dia tidak mau berteman dengan mahluk lain penghuni lauytan tersebut. Kemana-mana selalu sendiri, tidak mempunyai teman. Dia anggapp dirinyalah yang paling bersih dan suci.
            Pada suatu ketika Udang bertemu bandeng. Disapanya bandeng tersebut.
            “ Hai bandeng, kamu jorok sekali. Tubuhmu sampai hitam begitu. Tidak seperti aku. Tidak tahukah kau, sesungguhnya akulah penghuni lautan ini yang paling bersih dan suci!” kata udang menyombongkan diri.
            “ Apa buktinya?” Tanya bandeng tidak percaya.
            “ Pandanglah aku baik-nbaik, tubuhku bersih. Tidak terdapat   kotoran sedikitpun di dalamnya. Tubuhku licin, mengkilat, dan berkilauan bagai kaca. Tidak seperti kau, bandeng. Badanmu bersisiik, dan di dalam perutmu terdapat banyak kotoran!”
            “ Meskipun perutku terdapat kotoran namun tersimpan rapat dan rapi. Sehingga tidak berbau menusuk hidung tetangga  kita. Kamu sendiri yang tidak menyadari akan keadaan dirimu!”
            “ Memang aku bersih kok!” udang tidak mau mengakui kesombongannya.
            “ Bukankan kemana saja kamu pergi selalu membawa kotoran di tengkukmu. Kau sendiri tentu tidak dapat melihatnya. Tetapi kami semua  menyaksikan dan selalu mencium bau busuk klotoranmu yang tidak disimpan dengan baik. Itu bukti nyata kepicikan dan ketololanmu, udang!” kata bandeng berusaha meyakinkan udang.
            Mendengar  perkataan bandeng tersebut, udang diam tidak membantah. Dia hanya berusaha melipat tubuhnya, untuk menyembunyikan  kotoran yang terdapat di tyengkuknya. Akan tetapi yang terlipat justru ekornya. Kotorannya malah semakin terlihat.
            “ Katanya paling b ersih, lihat kotoranmu banmayk sekali. Hiiii, jijik!!” kata bandeng.
            Secepat kilat udang meloncat  meninggalkan bandeng tanpa permisi. Karena malu dia bersembunyi di balik batu.
            Bandeng sadar. Ternyata sangat sulit untuk melihat kesalahan diri sendiri dibanding melihat kesalahan dan keburukn orang lain.