Di suatu
lautan terdapat seekor udang yang sangat sombong. Dia tidak mau berteman dengan
mahluk lain penghuni lauytan tersebut. Kemana-mana selalu sendiri, tidak
mempunyai teman. Dia anggapp dirinyalah yang paling bersih dan suci.
Pada suatu ketika Udang bertemu
bandeng. Disapanya bandeng tersebut.
“ Hai bandeng, kamu jorok sekali.
Tubuhmu sampai hitam begitu. Tidak seperti aku. Tidak tahukah kau, sesungguhnya
akulah penghuni lautan ini yang paling bersih dan suci!” kata udang
menyombongkan diri.
“ Apa buktinya?” Tanya bandeng tidak
percaya.
“ Pandanglah aku baik-nbaik, tubuhku
bersih. Tidak terdapat kotoran
sedikitpun di dalamnya. Tubuhku licin, mengkilat, dan berkilauan bagai kaca.
Tidak seperti kau, bandeng. Badanmu bersisiik, dan di dalam perutmu terdapat
banyak kotoran!”
“ Meskipun perutku terdapat kotoran
namun tersimpan rapat dan rapi. Sehingga tidak berbau menusuk hidung
tetangga kita. Kamu sendiri yang tidak
menyadari akan keadaan dirimu!”
“ Memang aku bersih kok!” udang
tidak mau mengakui kesombongannya.
“ Bukankan kemana saja kamu pergi
selalu membawa kotoran di tengkukmu. Kau sendiri tentu tidak dapat melihatnya.
Tetapi kami semua menyaksikan dan selalu
mencium bau busuk klotoranmu yang tidak disimpan dengan baik. Itu bukti nyata
kepicikan dan ketololanmu, udang!” kata bandeng berusaha meyakinkan udang.
Mendengar perkataan bandeng tersebut, udang diam tidak
membantah. Dia hanya berusaha melipat tubuhnya, untuk menyembunyikan kotoran yang terdapat di tyengkuknya. Akan
tetapi yang terlipat justru ekornya. Kotorannya malah semakin terlihat.
“ Katanya paling b ersih, lihat
kotoranmu banmayk sekali. Hiiii, jijik!!” kata bandeng.
Secepat kilat udang meloncat meninggalkan bandeng tanpa permisi. Karena
malu dia bersembunyi di balik batu.
Bandeng sadar. Ternyata sangat sulit
untuk melihat kesalahan diri sendiri dibanding melihat kesalahan dan keburukn
orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar