Selasa, 17 November 2015

SURAT BUAT IBU


Bruk!!! Prangggg!!! Ember tempat cucian gelas dan piring jatuh ke lantai. Isinya berhamburan. Gelas, piring, dan mangkok pecah berkeping-keping. Detak jantungku seakan berhenti, Telingaku seakan mendengar detak jantungku detak demi detak. Kalau aku bercermin, wajahku mungkin seperti kain putih. Pucat. Takut dimarahi Ibu. Bayangkan saja. Hari itu aku mencuci sekitar satu lusinan perlengkapan makan siang. Maklum keluargaku termasuk keluarga besar. Adikku ada tiga dan kakak satu. Setiap selesai  makan aku mencuci semua bekas makan orang tuaku dan adik-adikku bersama kakakku. Saat itu hujan baru saja berhenti. Lantai yang menghubungkan rumah dengan tempat aku mencuci piring tentu saja basah. Sudah basah berlumut lagi. Sepertinya lantai depan rumah tersebut saat musim penghujan selalu berlumut. Padahal aku dan kakaku selalu bergantian membersihkan lumut yang menempel dengan menggunakan scraf. Mendengar suara piring dan gelas pecah, ibu tergopoh-gopoh menghampiriku.
 “ Hati-hati kalau hujan, lantainya sangat licin. Ibu saja yang mengambil pecahan-pecahannya,” kata Ibu sambil mengambili pecahan-pecahan yang berserakan di lantai.  Tidak ada tanda-tanda di wajahnya apabila Ibu marah. Syukurlah, Ibu tidak memarahiku. Aku tahu. Ibu orangnya cerewet sebenarnya. Apalagi apabila ada anaknya yang tidak menuruti perintahnya. Beliau tidak berhenti ngomong sebelum anaknya menuruti perintahnya. Aku pun diam saja sambil mengambil pecahan-pecahan piring dan gelas yang ada di sekitarku. Aku ingat, saat Pak De dari Tegal atau yang dari Bekasi dan Kerawang pulang ke Gombong, kami pasti disuruh menemui mereka di rumah Simbah.
“ Pak De dan Bu De Bangi ke sini lho. Kalian ke Simbah dulu. Nanti setelah selesai masak, Ibu menyusul.”kata Ibu saat Pak De yang dari Tegal ke Gombong. Rumah simbah dengan rumah kami sebenarnya tidak jauh. Hanya melewati makam desa yang kalau malam, sangat gelap. Maklum saat itu listrik belum terpasang menyeluruh di desaku.  Kami yang sedang asyik bermain bersama teman-teman kadang menolak menemui mereka. Nah, Ibu pasti akan lama untuk menceramahi kami yang bandel ini. Saat kami ada yang sakit, Ibu pasti akan mengomel apabila kami malas minum obat atau menangis tidak bisa menahan sakit. Aku masih ingat, saat kuku ibu jari kaki kakakku membusuk gara-gara saat berkemah memakai sepatu yang basah terus menerus. Tiap sore hari sebelum mandi, ibu merendam kaki kakakku tersebut dengan air hangat agar kukunya cepat terlepas. Kakak menahan tangis untuk menghindari omelan Ibu.
 Apakah Ibu masih ingat peristiwa tersebut? Apakah hari ini Ibu sehat? Saya harap Ibu senantiasa diberi karunia kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Saya tidak bisa selalu menemani Ibu. Jarak Blora Gombong cukup jauh Bu. Semoga Ibu  tidak merasa sepi semenjak kepergian Bapak. Ibu, saat aku pulang lebaran 2011 kemarin aku agak kaget. Rambut Ibu sudah memutih semua. Mungkin Ibu agak kaget, hidup tanpa Bapak. Mungkin juga Ibu merasa ada beban yang berkaitan dengan kami, anak-anakmu, yang belum menjadi orang seperti yang diharapkan Bapak sama Ibu. Maafkan kami Ibu. Ibu, terus terang aku sangat rindu bertemu denganmu. Sudah hampir satu tahun kita tidak bertemu. Aku terakhir bertemu denganmu saat akan wisuda S2ku. 
Kalau tidak salah  aku membawa anak-anaku ke Gombong terakhir saat anaknya Dik Agus          berumur satu bulan. Saat itu anak ketigaku baru bisa berjalan. Azka, anak nomer tigaku, latihan berlari dari ruang depan ke ruang belakang sambil mengambil jajanan di meja tamu. Sekarang sudah bisa berlarian kesana kemari dan mau masuk TK Kecil. Kedua kakaknya juga sering menanyakan bagaimana kabarnya Simbah. Mereka kalau liburan kerapkali minta liburan di Gombong. Bisa main ke Waduk Sempor atau benteng Van der Wijk kata mereka. Kalau di Blora mereka sudah pada jenuh. Blora obyek wisatanya belum dikelola dengan baik Bu. Lebaran kemarin aku juga belum bisa membawa anak dan istriku mudik ke Gombong. Anak-anak baru saja sembuh dari sakit. Aku dan istriku khawatir membawa mereka melewati  perjalanan yang melelahkan. Terutama anak ketigaku. Ia akan minta pulang dan nangis apabila tubuhnya sudah merasa lelah. Selain itu keuangan kami sedang kacau balau. Untuk pulang ke Gombong paling tidak membutuhkan uang sebanyak satu jutaan. Bagi orang lain mungkin sedikit. Tetapi bagi kami, saat itu uang sejumlah itu sangat berharga.
Oh iya Bu, maafkan aku Ibu. Saat memperbaiki makam Bapak aku hanya menyumbang sedikit. Aku tahu Ibu pasti akan menjual sebagian hasil panen padi untuk menambal biaya keperluan tersebut. Sekali lagi aku minta maaf Bu. Anakku baru keluar dari rumah sakit sehingga kami tersedot untuk itu. Terus terang, aku sangat malu kepada Ibu. Dulu, saat kuliah aku pasti minta uang ke Ibu apabila uang bulanan dari Bapak habis. Bapak berpesan padaku uang bulanan hanya sekali per bulan. Saat aku kepepet tentu saja aku hanya bisa meminta kepada Ibu. Walaupun ibu pasti akan kebingungan pada awalnya tetapi pasti aku akan dapat uang saku dari Ibu. Hasil menjual satu karung padi persediaan di lumbung tentunya. Ibu…Ibu, ada saja akal Ibu. Untuk membantu Bapak hampir tiap malam Ibu membungkus kering kentang untuk dijual di warung-warung dan kantin sekolah. Yah, Ibu memang pintar memasak. Kadang Ibu dimintai tolong membuatkan roti apabila ada orang yang hajatan. Bahkan Ibu menjadi juru masaknya.  Walaupun hanya tamatan SD tetapi Ibu keterampilannya seabrek. Ibu sempat juga mengambil kursus menjahit saat kami bertiga kuliah. Terus terang kami termotivasi semangat Ibu untuk terus belajar.

Ibu, jangan bosan membaca surat-suratku ya. Liburan Natal dan Tahun Baru sebenarnya kami ingin berlibur ke Gombong tetapi Hasna harus persiapan untuk mengikuti Pesta Siaga sebagai wakil sekolah. Semoga saat ada waktu dan kesempatan yang lebih luang kami bisa berlibur di Gombong untuk sejenak menemani dan menikmati lezatnya masakan Ibu. Bagaimana kabarnya Mas Bambang? Dik Widi, dik Agus dan dik Herman? Semoga sehat wal afiat dan selalu dalam lindungan-Nya. Amien. Surat dari Blora sekian dulu Ibu. Salam dari Dik Fitri, Faiq, Hasna, dan si kecil Azka. Mohon doanya semoga kami lancar dalam berusaha dan senantiasa  dalam lindungan-Nya. Jaga kesehatan Ibu. Tidur dan makan yang cukup.  Tidak usah berpikir yang aneh-aneh. Kami tidak usah dipikirkan tetapi mohon doanya saja. Selamat Hari Ibu. Wassalam. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar