Bruk!!! Prangggg!!! Ember tempat cucian gelas
dan piring jatuh ke lantai. Isinya berhamburan. Gelas, piring, dan mangkok
pecah berkeping-keping. Detak jantungku seakan berhenti, Telingaku seakan
mendengar detak jantungku detak demi detak. Kalau aku bercermin, wajahku
mungkin seperti kain putih. Pucat. Takut dimarahi Ibu. Bayangkan saja. Hari itu
aku mencuci sekitar satu lusinan perlengkapan makan siang. Maklum keluargaku
termasuk keluarga besar. Adikku ada tiga dan kakak satu. Setiap selesai
makan aku mencuci semua bekas makan orang tuaku dan adik-adikku bersama
kakakku. Saat itu hujan baru saja berhenti. Lantai yang menghubungkan rumah
dengan tempat aku mencuci piring tentu saja basah. Sudah basah berlumut lagi.
Sepertinya lantai depan rumah tersebut saat musim penghujan selalu berlumut.
Padahal aku dan kakaku selalu bergantian membersihkan lumut yang menempel
dengan menggunakan scraf. Mendengar suara piring dan gelas pecah, ibu
tergopoh-gopoh menghampiriku.
“
Hati-hati kalau hujan, lantainya sangat licin. Ibu saja yang mengambil
pecahan-pecahannya,” kata Ibu sambil mengambili pecahan-pecahan yang berserakan
di lantai. Tidak ada tanda-tanda di wajahnya apabila Ibu marah.
Syukurlah, Ibu tidak memarahiku. Aku tahu. Ibu orangnya cerewet sebenarnya.
Apalagi apabila ada anaknya yang tidak menuruti perintahnya. Beliau tidak
berhenti ngomong sebelum anaknya menuruti perintahnya. Aku pun diam saja sambil
mengambil pecahan-pecahan piring dan gelas yang ada di sekitarku. Aku ingat,
saat Pak De dari Tegal atau yang dari Bekasi dan Kerawang pulang ke Gombong,
kami pasti disuruh menemui mereka di rumah Simbah.
“ Pak De dan Bu De Bangi ke sini lho. Kalian ke
Simbah dulu. Nanti setelah selesai masak, Ibu menyusul.”kata Ibu saat Pak De
yang dari Tegal ke Gombong. Rumah simbah dengan rumah kami sebenarnya tidak
jauh. Hanya melewati makam desa yang kalau malam, sangat gelap. Maklum saat itu
listrik belum terpasang menyeluruh di desaku. Kami yang sedang asyik
bermain bersama teman-teman kadang menolak menemui mereka. Nah, Ibu pasti akan
lama untuk menceramahi kami yang bandel ini. Saat kami ada yang sakit, Ibu
pasti akan mengomel apabila kami malas minum obat atau menangis tidak bisa
menahan sakit. Aku masih ingat, saat kuku ibu jari kaki kakakku membusuk
gara-gara saat berkemah memakai sepatu yang basah terus menerus. Tiap sore hari
sebelum mandi, ibu merendam kaki kakakku tersebut dengan air hangat agar
kukunya cepat terlepas. Kakak menahan tangis untuk menghindari omelan Ibu.
Apakah
Ibu masih ingat peristiwa tersebut? Apakah hari ini Ibu sehat? Saya harap Ibu
senantiasa diberi karunia kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Saya tidak bisa
selalu menemani Ibu. Jarak Blora Gombong cukup jauh Bu. Semoga Ibu tidak
merasa sepi semenjak kepergian Bapak. Ibu, saat aku pulang lebaran 2011 kemarin
aku agak kaget. Rambut Ibu sudah memutih semua. Mungkin Ibu agak kaget, hidup
tanpa Bapak. Mungkin juga Ibu merasa ada beban yang berkaitan dengan kami,
anak-anakmu, yang belum menjadi orang seperti yang diharapkan Bapak sama Ibu.
Maafkan kami Ibu. Ibu, terus terang aku sangat rindu bertemu denganmu. Sudah
hampir satu tahun kita tidak bertemu. Aku terakhir bertemu denganmu saat akan
wisuda S2ku.
Kalau tidak salah aku membawa anak-anaku
ke Gombong terakhir saat anaknya Dik Agus
berumur satu bulan. Saat itu
anak ketigaku baru bisa berjalan. Azka, anak nomer tigaku, latihan berlari dari
ruang depan ke ruang belakang sambil mengambil jajanan di meja tamu. Sekarang
sudah bisa berlarian kesana kemari dan mau masuk TK Kecil. Kedua kakaknya juga
sering menanyakan bagaimana kabarnya Simbah. Mereka kalau liburan kerapkali
minta liburan di Gombong. Bisa main ke Waduk Sempor atau benteng Van der Wijk
kata mereka. Kalau di Blora mereka sudah pada jenuh. Blora obyek wisatanya
belum dikelola dengan baik Bu. Lebaran kemarin aku juga belum bisa membawa anak
dan istriku mudik ke Gombong. Anak-anak baru saja sembuh dari sakit. Aku dan
istriku khawatir membawa mereka melewati perjalanan yang melelahkan.
Terutama anak ketigaku. Ia akan minta pulang dan nangis apabila tubuhnya sudah
merasa lelah. Selain itu keuangan kami sedang kacau balau. Untuk pulang ke
Gombong paling tidak membutuhkan uang sebanyak satu jutaan. Bagi orang lain
mungkin sedikit. Tetapi bagi kami, saat itu uang sejumlah itu sangat berharga.
Oh iya Bu, maafkan aku Ibu. Saat memperbaiki
makam Bapak aku hanya menyumbang sedikit. Aku tahu Ibu pasti akan menjual
sebagian hasil panen padi untuk menambal biaya keperluan tersebut. Sekali lagi
aku minta maaf Bu. Anakku baru keluar dari rumah sakit sehingga kami tersedot
untuk itu. Terus terang, aku sangat malu kepada Ibu. Dulu, saat kuliah aku
pasti minta uang ke Ibu apabila uang bulanan dari Bapak habis. Bapak berpesan
padaku uang bulanan hanya sekali per bulan. Saat aku kepepet tentu saja aku
hanya bisa meminta kepada Ibu. Walaupun ibu pasti akan kebingungan pada awalnya
tetapi pasti aku akan dapat uang saku dari Ibu. Hasil menjual satu karung padi
persediaan di lumbung tentunya. Ibu…Ibu, ada saja akal Ibu. Untuk membantu
Bapak hampir tiap malam Ibu membungkus kering kentang untuk dijual di
warung-warung dan kantin sekolah. Yah, Ibu memang pintar memasak. Kadang Ibu
dimintai tolong membuatkan roti apabila ada orang yang hajatan. Bahkan Ibu
menjadi juru masaknya. Walaupun hanya tamatan SD tetapi Ibu keterampilannya
seabrek. Ibu sempat juga mengambil kursus menjahit saat kami bertiga kuliah.
Terus terang kami termotivasi semangat Ibu untuk terus belajar.
Ibu, jangan bosan membaca surat-suratku ya.
Liburan Natal dan Tahun Baru sebenarnya kami ingin berlibur ke Gombong tetapi
Hasna harus persiapan untuk mengikuti Pesta Siaga sebagai wakil sekolah. Semoga
saat ada waktu dan kesempatan yang lebih luang kami bisa berlibur di Gombong
untuk sejenak menemani dan menikmati lezatnya masakan Ibu. Bagaimana kabarnya Mas
Bambang? Dik Widi, dik Agus dan dik Herman? Semoga sehat wal afiat dan selalu
dalam lindungan-Nya. Amien. Surat dari Blora sekian dulu Ibu. Salam dari Dik
Fitri, Faiq, Hasna, dan si kecil Azka. Mohon doanya semoga kami lancar dalam
berusaha dan senantiasa dalam lindungan-Nya. Jaga kesehatan Ibu. Tidur
dan makan yang cukup. Tidak usah berpikir yang aneh-aneh. Kami tidak usah
dipikirkan tetapi mohon doanya saja. Selamat Hari Ibu. Wassalam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar