“ Baiklah anak-anak, untuk memperjelas keterangan Ibu
tadi, silahkan kalian mengerjakan tugas halaman 24. Dikumpulkan pada pertemuan
kita yang akan datang!” Anak-anak kelas
IV SD Tunas Bangsa memperhatikan apa yang ditugaskan gurunya sambil memasukkan
buku-bukunya ke dalam tas bersiap-siap pulang.
“ Gus, nanti dikerjakan
bareng di rumahku, habis makan siang,” ajak Anto pada seorang anak bertubuh
gendut.
“ Wah, besok-besok
saja, aku mau main layang-layang.”
Beberapa saat
kemudian terlihat anak-anak berhamburan dari dalam kelas menuju ke rumahnya
masing-masing.
“ Agus, PRmu sudah
dikerjakan? Tiap hari main layang-layang terus!” kata ibunya saat melihat Agus
keluar rumah sambil menenteng layang-layangnya.
Agus menjawab sekenanya
pertanyaan ibunya. Ia terus saja ngeloyor menuju lapangan di komplek
perumahannya. Ibunya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak semata
wayangnya tersebut. Bila sudah membawa
layang-layangnya, bisa seharian di
lapangan. Saat matahari terbenam ia baru pulang.
“ Agus, masak tiap
hari seharian main layang-layang.
Memangnya tidak punya PR? Sebenarnya kamu harus mulai bisa membagi
waktumu, antara main, belajar, dan istirahat,”
kata Ibunya saat makan bersama.
“ PRnya sepertinya
sangat mudah bagi Agus. Tidak sampai setengah jam pasti selesai,” kata Agus
sambil mengambil daging ayam yang paling gemuk di depannya.
“ Wah berarti anak
Bapak pintar. Tapi, PR itu dikerjakan bukan hanya dilihat. Dulu, saat Bapakmu
masih sekolah, Bapak sukanya menggampangkan setiap tugas dari Bapak dan Ibu
Guru. Bapak merasa tugas matematika yang ditugaskan guru sangat mudah. Ternyata
saat dikerjakan tidak semudah seperti yang Bapak kira. Membutuhkan waktu lama
untuk menyelesaikannya. Coba hitung, kalau satu soal saja membutuhkan waktu
setengah jam, berapa jam waktu untuk menyelesaikan sepuluh soal? Bagaimana bila
dalam sehari ada PR dari 2 atau 3 pelajaran?” kata Bapaknya mencoba
mengingatkan.
“ Alah,
Pak….Pak…Agus mau ke kamar, belajar,” katanya sambil meninggalkan Bapak dan
Ibunya yang masih makan. Sambil tiduran Agus mencoba membuka-buka bukunya.
Perut yang kenyang dan tubuh yang lelah membuat matanya tidak bisa diajak
membaca buku. Buku yang dipegangnya akhirnya jatuh menimpa wajahnya. Agus pun
melayang ke alam mimpi.
Satu hari, dua
hari, tiga hari, sepulang sekolah Agus selalu bermain layang-layang sampai
matahari tenggelam. Sampai pada suatu malam ia terkejut melihat buku-buku
catatannnya. Ternyata besok pelajaran Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris yang
semua ada PRnya.
“ Hukumannya bagi
yang tidak mengerjakan PR adalah berdiri di depan kelas.,” kata guru Matematika
yang juga wali kelasnya tersebut. Dengan
terpaksa malam itu juga ketiga PR tersebut harus selesai. Saat kentongan dari
gardu sebelah rumah dipukul 12 kali, Agus baru selesai mengerjakan PRnya. Tanpa
membereskan meja belajarnya, ia membungkus tubuhnya dengan selimut merah tebal
yang selalu setia menemaninya berjalan-jalan di alam mimpi.
Keesokan pagi
Ibunya dengan susah payah membangunkan anak semata wayangnya tersebut. Setelah
mandi dan sarapan pagi dengan wajah menahan kantuk, Agus berjalan menyusuri
trotoar menuju sekolahnya.
“ Waduh, enak juga
jadi tukang becak. Jam-jam segini masih molor di atas becak,” gumam batinnya saat
melintasi pangkalan becak.
Dua jam pelajaran
dilaluinya dengan lancar. Tetapi saat pelajaran Matematika, Agus tidak kuasa
menahan kantuknya. Seperti biasa Bu Ami menyuruh murid-muridnya mengerjakan PR
di depan kelas, urut berdasar tempat duduknya.
“ Wah, aku masih
lumayan lama,” gumam Agus sambil meletakkan kepalanya di atas tumpukkan kedua
tangannya yang dijadikan bantal. Tanpa ia sadari, ia pun tertidur.
“ Nomer 19 siapa?”
tanya Bu Ami.
“ Ha…Ha….Ha…Agus Bu!!!”
serentak seisi kelas menjawab pertanyaan gurunya. Bu Ami langsung menatap tempat duduk Agus.
Dilihatnya ia masih tertidur dengan pulasnya. Muka Bu Ami merah padam menahan
marah.
“ Agus, maju!”
Teriakan Bu Ami
sontak mengagetkan Agus. Ia pun kebingungan. Joko, teman sebangkunya,
mengingatkannya akan perintah Bu Ami tadi. Agus pun maju dengan hati
berdebar-debar akibat kesalahannya. Mukanya beraneka warna menahan malu.
“ Agus, kenapa kamu
sampai ketiduran? Apa kamu ikut siskamling tadi malam?” tanya Bu Ami dengan
lembut tanpa terlihat marah sedikitpun. Agus pun menceritakan kerja lemburnya
tadi malam.
“ Makanya jangan
menunda-nunda mengerjakan sesuatu. Tiap
pulang sekolah, kerjakan dulu PRnya baru bermain. Sedikit-sedikit nanti
kalau bertumpuk menjadi bukit lho. Ibu harap, kejadian ini tidak diulangi kembali. Ya sudah, sekarang
kerjakan nomer 19!”
“ Baik Bu.”
Sejak saat itu Agus
menjadi sadar. Sesuatu yang sedikit apabila dikumpulkan akan menjadi banyak. PR
yang sedikit apabila dikumpulkan akan menjadi bukit PR yang mungkin ia sendiri
tidak akan sanggup mengerjakan semuanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar