Di sebuah desa pinggiran
hutan larangan tinggalah seorang ibu dengan seorang anaknya yang bernama Kuromu.
Mereka berdua tinggal di sebuah gubug
yang sangat sederhana. Kuromu sangat suka menggambar. Apa pun akan
digambarnya. Bahan apa saja bisa dijadikan alas untuk menuangkan gambarnya.
Saat ia ingin menggambar maka ia menggambar dengan bahan yang paling dekat
dengannya. Tanah, bambu, potongan kayu,
dan sebagainya. Gambarnya sangat detail dan terlihat hidup seperti pelukis
sungguhan.
Suatu saat tidak jauh dari tempat
Kuromu berdiri, lewat serombongan orang berkuda
dan yang paling belakang seekor gajah yang di atasnya sebuah tandu. Kudanya
gagah-gagah tidak seperti kuda Pak Sanip, tetangga kampung sebelah, yang kurus
tidak terawat karena kepayahan menarik beban seharian. Para penunggang kuda
tersebut bersenjatakan tombak dan pedang. Rombongan begitu cepat meninggalkan
Kuromu dan masuk hutan larangan. Tidak ada seorang pun yang berani masuk hutan
tersebut.
Ingatan Kuromu yang sangat tajam
mampu mengingat kejadian tersebut dengan jelas. Kemudian
ia mengambil potongan kayu yang cukup
datar dan lebar. Dengan arang tangan trampilnya mulai menggores-nggores papan
kayu. Mulailah ia melukis kejadian yang baru
dilihatnya tersebut di atas potongan
kayu. Kuda dan gajah dilukisnya dengan detail termasuk para penunggangnya tanpa
melupakan perlengkapan yang dipakai mereka.
Nun jauh di sana, di istana kerajaan Takanara telah terjadi kegemparan.
Putera mahkota yang masih anak-anak raib
dari istana. Tampaknya ada yang
berkhianat pada Raja Dakanata. Ratu Hania menangis tiada henti. Mengkhawatirkan
keselamatan Tokana yang baru berusia 7 tahun di cengkeraman para pengkhianat
raja.
“ Panglima, kerahkan prajurit
pilihan ke penjuru negeri. Dan jangan kembali sebelum anakku ditemukan!!!”
perintah Raja Dakanata. Dengan
bersenjata lengkap dan kuda-kuda yang paling kuat dimulailah pencarian. Mereka
bergerak secepat angin. Tugas di pundak mereka sangat berat, harus
menyelamatkan putera mahkota secepat mungkin. Setiap tempat mereka amati dengan
cermat dan cepat. Tiada henti mereka mencari.
“ Kita berhenti di perkampungan
terakhir. Mungkin ada tanda-tanda yang mencurigakan sekalian kita istirahat.”
Tidak berapa lama kemudian sampailah
mereka di pinggir hutan larangan. Mereka mendapati rumah Kuromu dengan pintu
terbuka. Saat itu Kuromu di samping
rumah sedang menjemur kayu-kayu bakar yang
dikumpulkannya tadi pagi. Tanpa sengaja seorang prajurit melihat lukisan pada
sebuah papan kayu yang teronggok di atas tumpukan kayu bakar. Prajurit heran
melihat lukisan arang di papan kayu tersebut.
“ Nak, ini siapa yang melukis, kok
bagus sekali?” tanya prajurit kepada Kuromu. Kemudian Kuromu menceritakan
kejadian kemarin saat melintas rombongan
kuda dan gajah yang melintas di depan rumahnya.
Setelah mendengar penuturan Kuromu, panglima dan pasukannya memutuskan
menerobos hutan larangan. Kuda-kuda
mereka tambatkan di rumah Kuromu. Dengan langkah-langkah cepat dan sangat hati-hati
mereka mencoba menyisiri hutan. Hutan begitu rimbun seolah tidak ada celah bagi
kaki-kaki pasukan pengawal pilihan kerajaan Takanara. Kadang mereka bertemu
dengan ular sebesar kaki mereka yang siap melilit mangsanya. Kera-kera
berlarian dan berlompatan melihat banyak orang di sekelilingnya.
Matahari hampir terbenam. Wajah
lelah, pakaian basah, tangan dan kaki perih terkena duri seakan terlupakan saat
mendengar canda tawa di tengah hutan. Terlihat pasukan pengkhianat sedang
berpesta merayakan keberhasilan aksi penculikan putera mahkota. Nampak putera mahkota sedang duduk di kurungan kayu
di tengah-tengah kerumunan pasukan.
“ Ini kesempatan kita untuk
mengalahkan mereka. Pasukan pengkhianat pasti sangat tidak siap apabila kita serang. Pasukan
kita bagi menjadi dua. Pasukan penyerang dan pasukan penyelamat putera mahkota.
Masing-masing harus sama cepat. Siaaaap!!!”
kata Panglima sambil membagi pasukannya dengan cepat.
Tanpa susah payah akhirnya pasukan
pengkhianat dapat dilumpuhkan. Putera mahkota selamat tanpa luka sedikitpun. Seisi
istana Takanara bergembira mengetahui putera mahkota telah kembali. Sebagai
tanda terima kasih, Raja Dakanata memerintahkan prajuritnya untuk menjemput
Kuromu dan ibunya agar tinggal di istana.
Berkat kepintarannya melukis, akhirnya Kuromu dijadikan sebagai pelukis
istana. Setiap kejadian dan peristiwa yang ada
di kerajaan Takanara di lukisnya. Kuromu dan ibunya hidup bahagia di
istana selamanya. ( Dwiyanto Susilo)