Kamis, 14 Januari 2016

PELUKIS ISTANA

Di sebuah desa pinggiran hutan larangan tinggalah seorang ibu dengan seorang anaknya yang bernama Kuromu. Mereka berdua tinggal di sebuah gubug  yang sangat sederhana. Kuromu  sangat suka menggambar. Apa pun akan digambarnya. Bahan apa saja bisa dijadikan alas untuk menuangkan gambarnya. Saat ia ingin menggambar maka ia menggambar dengan bahan yang paling dekat dengannya. Tanah,  bambu, potongan kayu, dan sebagainya. Gambarnya sangat detail dan terlihat hidup seperti pelukis sungguhan.
            Suatu saat tidak jauh dari tempat Kuromu  berdiri, lewat serombongan orang berkuda dan yang paling belakang seekor gajah yang di atasnya sebuah tandu. Kudanya gagah-gagah tidak seperti kuda Pak Sanip, tetangga kampung sebelah, yang kurus tidak terawat karena  kepayahan  menarik beban seharian. Para penunggang kuda tersebut bersenjatakan tombak dan pedang. Rombongan begitu cepat meninggalkan Kuromu dan masuk hutan larangan. Tidak ada seorang pun yang berani masuk hutan tersebut.  
            Ingatan Kuromu yang sangat tajam mampu mengingat kejadian tersebut dengan jelas.   Kemudian  ia mengambil potongan kayu yang cukup datar dan lebar. Dengan arang tangan trampilnya mulai menggores-nggores papan kayu. Mulailah ia melukis kejadian yang baru  dilihatnya tersebut di  atas potongan kayu. Kuda dan gajah dilukisnya dengan detail termasuk para penunggangnya tanpa melupakan perlengkapan yang dipakai mereka.  
            Nun jauh di sana, di istana  kerajaan Takanara telah terjadi kegemparan. Putera mahkota yang masih anak-anak  raib dari istana.  Tampaknya ada yang berkhianat pada Raja Dakanata. Ratu Hania menangis tiada henti. Mengkhawatirkan keselamatan Tokana yang baru berusia 7 tahun di cengkeraman para pengkhianat raja.
            “ Panglima, kerahkan prajurit pilihan ke penjuru negeri. Dan jangan kembali sebelum anakku ditemukan!!!” perintah Raja Dakanata.  Dengan bersenjata lengkap dan kuda-kuda yang paling kuat dimulailah pencarian. Mereka bergerak secepat angin. Tugas di pundak mereka sangat berat, harus menyelamatkan putera mahkota secepat mungkin. Setiap tempat mereka amati dengan cermat dan cepat. Tiada henti mereka mencari.
            “ Kita berhenti di perkampungan terakhir. Mungkin ada tanda-tanda yang mencurigakan sekalian kita istirahat.”
            Tidak berapa lama kemudian sampailah mereka di pinggir hutan larangan. Mereka mendapati rumah Kuromu dengan pintu terbuka. Saat itu Kuromu  di samping rumah    sedang menjemur kayu-kayu bakar yang dikumpulkannya tadi pagi. Tanpa sengaja seorang prajurit melihat lukisan pada sebuah papan kayu yang teronggok di atas tumpukan kayu bakar. Prajurit heran melihat lukisan arang di papan kayu tersebut.
            “ Nak, ini siapa yang melukis, kok bagus sekali?” tanya prajurit kepada Kuromu. Kemudian Kuromu menceritakan kejadian kemarin saat  melintas rombongan kuda dan gajah yang melintas di depan rumahnya.
            Setelah mendengar  penuturan Kuromu, panglima dan pasukannya memutuskan menerobos hutan larangan.   Kuda-kuda mereka tambatkan di rumah Kuromu. Dengan langkah-langkah cepat dan sangat hati-hati mereka mencoba menyisiri hutan. Hutan begitu rimbun seolah tidak ada celah bagi kaki-kaki pasukan pengawal pilihan kerajaan Takanara. Kadang mereka bertemu dengan ular sebesar kaki mereka yang siap melilit mangsanya. Kera-kera berlarian dan berlompatan melihat banyak orang di sekelilingnya.
            Matahari hampir terbenam. Wajah lelah, pakaian basah, tangan dan kaki perih terkena duri seakan terlupakan saat mendengar canda tawa di tengah hutan. Terlihat pasukan pengkhianat sedang berpesta merayakan keberhasilan aksi penculikan putera mahkota. Nampak  putera mahkota sedang duduk di kurungan kayu di tengah-tengah kerumunan pasukan.
            “ Ini kesempatan kita untuk mengalahkan mereka. Pasukan pengkhianat pasti  sangat tidak siap apabila kita serang. Pasukan kita bagi menjadi dua. Pasukan penyerang dan pasukan penyelamat putera mahkota. Masing-masing harus sama cepat. Siaaaap!!!”  kata Panglima sambil membagi pasukannya dengan cepat.
            Tanpa susah payah akhirnya pasukan pengkhianat dapat dilumpuhkan. Putera mahkota selamat tanpa luka sedikitpun. Seisi istana Takanara bergembira mengetahui putera mahkota telah kembali. Sebagai tanda terima kasih, Raja  Dakanata  memerintahkan prajuritnya untuk menjemput Kuromu dan ibunya agar tinggal di istana.  Berkat kepintarannya melukis, akhirnya Kuromu dijadikan sebagai pelukis istana. Setiap kejadian dan peristiwa yang ada  di kerajaan Takanara di lukisnya. Kuromu dan ibunya hidup bahagia di istana selamanya. ( Dwiyanto Susilo)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar