Minggu, 15 November 2015

Jalan Samping Rumah


            Rusman tampak mondar-mandir di sebuah klinik bersalin. Ia dan  Mirna, istrinya, sedang menanti kelahiran anak pertamanya. Wajah Rusman tampak kuyu dan lelah. Tepat saat kentongan di pos ronda bertalu  dua kali istrinya masuk klinik bersalin tersebut.       Rusman menemani istrinya yang menahan perutnya yang sangat sakit. Menurut bidan jaga baru pembukaan empat.  Kemungkinan setelah shubuh baru melahirkan.  Bagi Rusman jarum jam di klinik berjalan sangat lambat. Sambil mengelus-elus perut istrinya mulut Rusman tampak komat-kamit membaca doa demi kesehatan dan keselamatan dua jiwa yang sangat disayanginya.
            Sayup-sayup adzan shubuh berkumandang bersahut-sahutan. Istrinya dipindah ke ruang bersalin. Rusman mengiringinya dengan doa dan kepasrahan pada Allah Yang Maha Berkehendak.  Kelahiran, kematian, rizki dan jodoh semuanya sudah diatur olehNya. Kita hanya berusaha dan Allahlah yang menentukan. Tangis bayi dari ruang bersalin mengagetkan Rusman. Air matanya menetes. Bahagia dan cemas campur aduk menjadi satu. 
            “ Pak Rusman, selamat ya. Anaknya ganteng seperti bapaknya. Ibunya juga sehat.” kata dokter Irawati sambil menyalami Rusman.
            “ Alkhamdulillahi robbil ‘alamin. Anak saya laki-laki dok? Sudah boleh saya melihatnya dok?”
            “ Sudah pak. Hanya saja ada sedikit masalah pada anak bapak. Klinik kami tidak mampu menanganinya. Kami akan merujuk ke rumah sakit yang mampu menangani anak bapak.”
            Dug. Serasa ada palu yang menghantam dada Rusman mendengar perkataan dokter yang menangani istrinya tersebut.
            “ Maksud dokter?!!”
            “ Begini Pak. Anak bapak tidak mempunyai lubang anus. Terus terang, kami tidak sanggup untuk menangani pasien dengan kondisi seperti anak bapak.   Rumah sakit-rumah sakit yang lebih besar dengan dokter dan perlengkapan yang lengkap, Insya Allah bisa mengatasi kasus yang diderita anak bapak. Bapak tidak usah khawatir.”

            Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mata Rusman menerawang jauh.

====================

            Seperti biasa setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, Rusman selalu membersihkan dan memanaskan sepeda motornya. Anak-anak sekolah dari arah utara, berkelompok berjalan melalui samping rumahnya. Rusman berhenti sejenak. Anak-anak sekolah menyapanya. Maklum di desa. Tegur sapa antar tetangga sudah biasa.  Sebentar kemudian Rusman melanjutkan mengelus-elus kembali motor satu-satunya tersebut.  
            “ Man, jalan samping ditutup saja,” kata ibu mertuanya saat berkunjung ke tempatnya. Kamar tidur yang dipakai Ibu mertuanya memang persis di samping jalan setapak tersebut. Jalan tersebut awalnya digunakan Rusman dan Mirna, istrinya,  menuju ke rumah tetangga di selatan rumah. Sebenarya ada jalan lain tetapi apabila menggunakan jalan samping rumah tersebut lebih cepat. Tak lama kemudian tetangga-tetangganya menggunakan jalan pintas tersebut. Sekarang jalan tersebut bukan jalan setapak lagi.
            “ Kalau ditutup aku kasihan sama anak-anak yang biasa menggunakan jalan tersebut. Tetapi kalau tidak, rumahku menjadi tempat berseliweran orang-orang dan anak-anak sekolah.  Berisik. Belum lagi besok, saat anakku lahir. Tidurnya pasti tidak akan nyenyak karena sering mendengar suara gaduh dari jalan tersebut.” Hati Rusman berperang antara menutup jalan tersebut atau membiarkannya seperti biasa. 
            Menutup jalan tersebut sangatlah mudah. Tinggal memberi tanaman di ujung-ujung jalan saja, orang-orang dan anak-anak pasti tidak akan berani melaluinya. Hanya saja keberanian Rusman untuk melakukan hal tersebut tidak ada. Jalan tersebut memang di pekarangan rumahnya. Bukan di tanah pekarangan orang lain.  Menutup tanahnya sendiri apa salahnya. Tetapi ia ragu untuk melakukannya.
            “ Kang, sudah siang. Berangkat kerja tidak??!!.” Mirna, istrinya mengagetkannya. Rusman cepat-cepat bergegas   meninggalkan motornya. Dielusnya perut istrinya sesaat. Perut istrinya memang belum tampak besar. Maklum baru usia kehamilan  2 bulan. Ini adalah anaknya yang pertama. Setelah menunggu 6 tahun, mereka baru dikaruniai keturunan.
            “ Sudah siang, nanti terlambat lagi seperti kemarin.” kata Mirna mengingatkannya saat Rusman masih mengelus-elus perut istrinya.
            “ Makan yang banyak lho. Biar anak kita sehat. “
            Rusman bekerja di Kantor Pelayanan Pajak di kota kabupaten. Sebelumnya ia di kantor yang sama hanya di Jakarta. Di kantor, ia juga meminta nasehat kepada teman-temannya.  Dia ceritakan jalan di samping rumahnya sedetil-detilnya. Gunawan dan Catur, temannya satu ruang dengannya mendengarkan dengan seksama.
            “ Kalau menurutku tidak masalah jalan itu ditutup. Kan masih pekarangan kamu sendiri. Mumpung belum lebar ditutup saja. Nanti kalu sudah lebar dan di paving kita tidak enak sama tetangga, “ kata Gunawan dengan logat Surabaya yang masih kental.
            “ Wah, kalau aku tidak setuju. Walaupun itu jalan setapak dan hanya di pekarangan kita, tetap saja jalan tersebut sarana berlalu lalangnya orang. Itu sudah milik umum. Usul saya tidak usah ditutup. Digeser saja, menjauh dari rumahmu,” sambung Catur.
            “ Untuk apa repot-repot menggeser jalan segala.!” kata Gunawan dengan ketus.
            “ Eh dengar ya. Aku punya tetangga. Dulu anaknya meninggal gara-gara tidak punya lubang anus. Kabar-kabar yang berkembang di desa saat itu, gara-garanya dia menutup jalan di dekat rumahnya. Ini seperti kasusnya Rusman. Mumpung belum kejadian, laksanakan saja usulku.” tambah Catur memasang wajah serius.
            “ Itu takhayul. Aku tidak percaya hal begituan. Lahir, mati, rejeki, dan jodoh, sudah ditentukan oleh Allah. Sebagai umat yang taat beragama kita tidak usah percaya pada  hal-hal seperti itu.” kata Rusman.
            “ Percaya atau tidak itu terserah kalian. Apalagi istri Rusman sedang hamil muda. Kata orang tua-orang tua di kampungku, banyak hal yang harus dijauhi saat istri kita hamil dibawah usia 4 bulan. Tidak boleh membunuh binatang, kalau terpaksa membunuh harus menyebut terlebih dulu. Tidak boleh memandang yng jelek-jelek dan yang lain. Sudahlah, kalian pasti tidak akan percaya ini semua.  Terserah. Aku lapar. Aku mau ke warung depan. Kalian pesen apa?”
            Akhirnya obrolan jalan samping rumah tidak menghasilkan solusi apapun. Rusman memandang kepergian Catur ke warung depan dengan pikiran masih berkecamuk. Menutup atau tidak. Menutup berarti harus siap mendengar celoteh para tetangga yang biasa melintas di jalan tersebut  dan mungkin bisa memerahkan telinga Rusman. Tidak menutup berarti Rusman harus bersiap dari omelan ibu mertuanya. Bu Naryo, ibu mertuanya berulangkali menyuruhnya menutup jalan tersebut. Setiap kali berkunjung ke kampung, kangen anaknya, selalu berkomentar kamarnya ramai dan berisik. Apalagi saat anak-anak berangkat dan pulang sekolah. Menggeser jalan sangat mustahil. Pak Sastro yang tanahnya berhimpitan dengan pekarangan Rusman tidak mengizinkan sejengkal tanahnya dibuat jalan. Walau jalan setapak sekalipun. Sebulan yang lalu, Rusman bertamu ke rumah Pak   Sastro untuk meminta izin menggeser jalan setapak di samping rumah. Hanya dada sesak dan telinga yang memerah yang didapat Rusman. Pak Sastro memang terkenal orang paling pelit di kampung Jambusari. 
            Ibunya sebenarnya juga tidak setuju saat dimintai pendapatnya tentang menutup jalan samping rumah tersebut.
            “ Ora usah ditutup Man. Dalan kae pancen dalan cilik tapi dalan kae akeh sing seneng. Ora muter-muter. Tuwa Saring nek arep neng pabrik jam papat esuk metu kono. Cah-cah sekolah ya akeh sing liwat kono. Jajal nek ditutup, Man. Melas mbok wong-wong sing biasa lewat kono. Nutup dalan pada karo nutup rejekimu, Man. Mertuamu ngomel terus ya ben lah. Mengko kan meneng dhewek.” kata Ibunya dengan logat ngapak-ngapaknya.
===================      

            Betapa kagetnya Rusman saat pulang kerja.   Potongan-potongan pohon singkong sepanjang 20 centimeter berjejer rapi membentuk pagar di ujung utara dan selatan jalan bermasalah tersebut. Istrinya tersenyum melihat suaminya yang masih keheranan, Digandengnya tangan suaminya. Rusman menurut saja bagai kerbau dicocok hidungnya.
            “ Ini lho mas. Tadi Ibu nelpon. Dua hari lagi, Ibu akan ke sini. Beliau tanya, apa jalan samping kamar tidur sudah ditutup? Aku jawab belum, mas Rusman belum sempat. Aku malah dimarahi Ibu. Aku disuruh Ibu memagarinya dengan potongan pohon singkong. Mas marah, ya?” tanya Mirna dengan polos.
            “ Ndak apa-apa, buat apa marah. Masak apa hari ini?” tanya Rusman sambil menuju ruang makan. Hatinya sedikit khawatir mendengar omongan temannnya dikantor tadi siang.
            “ Yayang, maem sama Bapak yuk!” kata Rusman sambil mencium dan mengelus-elus perut Mirna.              
    
=================
            Pagi hari saat anak-anak berangkat sekolah, mereka menggerutu karena jalan yang biasa dilaluinya ditutup oleh deretan pohon singkong.
            “ E…EEE…ora ulih liwat kene maning. Dalane wis ditutup nganggo wit budin neng OM Rusman. “
            “ Dadi muter ya. Nek liwat kene padahal lewih cepet ya?!”kata anak-anak saat berangkat sekolah. Walaupun hanya berbeda sekian puluh meter tetapi bagi yang terbiasa menggunakan jalan samping rumah Rusman rasanya jauh. Tidak hanya anak-anak yang kesal jalan pintasnya ditutup. Orang-orang yang biasa menggunakan jalan tersebut juga memasang wajah masam saat akan melintasi jalan tersebut.

SEKIAN………

 Catatan :
 dalan              : jalan                         ora ulih           : tidak boleh
 pancen           : memang                   kene                : sini
 akeh               : banyak                     maning           : lagi
 melas              : kasihan                     wit budin         : pohon singkong
 mengko          : nanti                         meneng           : diam
 dhewek           : sendiri                      wis                   : sudah
nganggo          : memakai                  jajal nek          : coba kalau
arep                 : akan                         neng                : ke
sing                 : yang                          jam papat        : jam empat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar