Rusman
tampak mondar-mandir di sebuah klinik bersalin. Ia dan Mirna, istrinya, sedang menanti kelahiran
anak pertamanya. Wajah Rusman tampak kuyu dan lelah. Tepat saat kentongan di
pos ronda bertalu dua kali istrinya
masuk klinik bersalin tersebut. Rusman menemani istrinya yang menahan perutnya
yang sangat sakit. Menurut bidan jaga baru pembukaan empat. Kemungkinan setelah shubuh baru
melahirkan. Bagi Rusman jarum jam di
klinik berjalan sangat lambat. Sambil mengelus-elus perut istrinya mulut Rusman
tampak komat-kamit membaca doa demi kesehatan dan keselamatan dua jiwa yang
sangat disayanginya.
Sayup-sayup
adzan shubuh berkumandang bersahut-sahutan. Istrinya dipindah ke ruang
bersalin. Rusman mengiringinya dengan doa dan kepasrahan pada Allah Yang Maha
Berkehendak. Kelahiran, kematian, rizki
dan jodoh semuanya sudah diatur olehNya. Kita hanya berusaha dan Allahlah yang
menentukan. Tangis bayi dari ruang bersalin mengagetkan Rusman. Air matanya
menetes. Bahagia dan cemas campur aduk menjadi satu.
“
Pak Rusman, selamat ya. Anaknya ganteng seperti bapaknya. Ibunya juga sehat.” kata
dokter Irawati sambil menyalami Rusman.
“
Alkhamdulillahi robbil ‘alamin. Anak saya laki-laki dok? Sudah boleh saya melihatnya
dok?”
“
Sudah pak. Hanya saja ada sedikit masalah pada anak bapak. Klinik kami tidak mampu
menanganinya. Kami akan merujuk ke rumah sakit yang mampu menangani anak bapak.”
Dug.
Serasa ada palu yang menghantam dada Rusman mendengar perkataan dokter yang
menangani istrinya tersebut.
“
Maksud dokter?!!”
“
Begini Pak. Anak bapak tidak mempunyai lubang anus. Terus terang, kami tidak
sanggup untuk menangani pasien dengan kondisi seperti anak bapak. Rumah sakit-rumah sakit yang lebih besar
dengan dokter dan perlengkapan yang lengkap, Insya Allah bisa mengatasi kasus
yang diderita anak bapak. Bapak tidak usah khawatir.”
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mata
Rusman menerawang jauh.
====================
Seperti
biasa setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, Rusman selalu membersihkan dan
memanaskan sepeda motornya. Anak-anak sekolah dari arah utara, berkelompok
berjalan melalui samping rumahnya. Rusman berhenti sejenak. Anak-anak sekolah
menyapanya. Maklum di desa. Tegur sapa antar tetangga sudah biasa. Sebentar kemudian Rusman melanjutkan
mengelus-elus kembali motor satu-satunya tersebut.
“
Man, jalan samping ditutup saja,” kata ibu mertuanya saat berkunjung ke
tempatnya. Kamar tidur yang dipakai Ibu mertuanya memang persis di samping
jalan setapak tersebut. Jalan tersebut awalnya digunakan Rusman dan Mirna,
istrinya, menuju ke rumah tetangga di
selatan rumah. Sebenarya ada jalan lain tetapi apabila menggunakan jalan
samping rumah tersebut lebih cepat. Tak lama kemudian tetangga-tetangganya
menggunakan jalan pintas tersebut. Sekarang jalan tersebut bukan jalan setapak
lagi.
“
Kalau ditutup aku kasihan sama anak-anak yang biasa menggunakan jalan tersebut.
Tetapi kalau tidak, rumahku menjadi tempat berseliweran orang-orang dan
anak-anak sekolah. Berisik. Belum lagi
besok, saat anakku lahir. Tidurnya pasti tidak akan nyenyak karena sering
mendengar suara gaduh dari jalan tersebut.” Hati Rusman berperang antara menutup
jalan tersebut atau membiarkannya seperti biasa.
Menutup
jalan tersebut sangatlah mudah. Tinggal memberi tanaman di ujung-ujung jalan
saja, orang-orang dan anak-anak pasti tidak akan berani melaluinya. Hanya saja
keberanian Rusman untuk melakukan hal tersebut tidak ada. Jalan tersebut memang
di pekarangan rumahnya. Bukan di tanah pekarangan orang lain. Menutup tanahnya sendiri apa salahnya. Tetapi
ia ragu untuk melakukannya.
“
Kang, sudah siang. Berangkat kerja tidak??!!.” Mirna, istrinya mengagetkannya.
Rusman cepat-cepat bergegas meninggalkan
motornya. Dielusnya perut istrinya sesaat. Perut istrinya memang belum tampak
besar. Maklum baru usia kehamilan 2
bulan. Ini adalah anaknya yang pertama. Setelah menunggu 6 tahun, mereka baru
dikaruniai keturunan.
“
Sudah siang, nanti terlambat lagi seperti kemarin.” kata Mirna mengingatkannya
saat Rusman masih mengelus-elus perut istrinya.
“
Makan yang banyak lho. Biar anak kita sehat. “
Rusman
bekerja di Kantor Pelayanan Pajak di kota kabupaten. Sebelumnya ia di kantor
yang sama hanya di Jakarta. Di kantor, ia juga meminta nasehat kepada teman-temannya. Dia ceritakan jalan di samping rumahnya
sedetil-detilnya. Gunawan dan Catur, temannya satu ruang dengannya mendengarkan
dengan seksama.
“
Kalau menurutku tidak masalah jalan itu ditutup. Kan masih pekarangan kamu
sendiri. Mumpung belum lebar ditutup saja. Nanti kalu sudah lebar dan di paving
kita tidak enak sama tetangga, “ kata Gunawan dengan logat Surabaya yang masih
kental.
“
Wah, kalau aku tidak setuju. Walaupun itu jalan setapak dan hanya di pekarangan
kita, tetap saja jalan tersebut sarana berlalu lalangnya orang. Itu sudah milik
umum. Usul saya tidak usah ditutup. Digeser saja, menjauh dari rumahmu,”
sambung Catur.
“
Untuk apa repot-repot menggeser jalan segala.!” kata Gunawan dengan ketus.
“
Eh dengar ya. Aku punya tetangga. Dulu anaknya meninggal gara-gara tidak punya
lubang anus. Kabar-kabar yang berkembang di desa saat itu, gara-garanya dia
menutup jalan di dekat rumahnya. Ini seperti kasusnya Rusman. Mumpung belum
kejadian, laksanakan saja usulku.” tambah Catur memasang wajah serius.
“
Itu takhayul. Aku tidak percaya hal begituan. Lahir, mati, rejeki, dan jodoh,
sudah ditentukan oleh Allah. Sebagai umat yang taat beragama kita tidak usah
percaya pada hal-hal seperti itu.” kata
Rusman.
“
Percaya atau tidak itu terserah kalian. Apalagi istri Rusman sedang hamil muda.
Kata orang tua-orang tua di kampungku, banyak hal yang harus dijauhi saat istri
kita hamil dibawah usia 4 bulan. Tidak boleh membunuh binatang, kalau terpaksa
membunuh harus menyebut terlebih
dulu. Tidak boleh memandang yng jelek-jelek dan yang lain. Sudahlah, kalian
pasti tidak akan percaya ini semua. Terserah.
Aku lapar. Aku mau ke warung depan. Kalian pesen apa?”
Akhirnya
obrolan jalan samping rumah tidak menghasilkan solusi apapun. Rusman memandang
kepergian Catur ke warung depan dengan pikiran masih berkecamuk. Menutup atau
tidak. Menutup berarti harus siap mendengar celoteh para tetangga yang biasa melintas
di jalan tersebut dan mungkin bisa
memerahkan telinga Rusman. Tidak menutup berarti Rusman harus bersiap dari
omelan ibu mertuanya. Bu Naryo, ibu mertuanya berulangkali menyuruhnya menutup
jalan tersebut. Setiap kali berkunjung ke kampung, kangen anaknya, selalu
berkomentar kamarnya ramai dan berisik. Apalagi saat anak-anak berangkat dan
pulang sekolah. Menggeser jalan sangat mustahil. Pak Sastro yang tanahnya
berhimpitan dengan pekarangan Rusman tidak mengizinkan sejengkal tanahnya
dibuat jalan. Walau jalan setapak sekalipun. Sebulan yang lalu, Rusman bertamu
ke rumah Pak Sastro untuk meminta izin
menggeser jalan setapak di samping rumah. Hanya dada sesak dan telinga yang memerah
yang didapat Rusman. Pak Sastro memang terkenal orang paling pelit di kampung
Jambusari.
Ibunya
sebenarnya juga tidak setuju saat dimintai pendapatnya tentang menutup jalan
samping rumah tersebut.
“ Ora usah ditutup Man. Dalan kae pancen
dalan cilik tapi dalan kae akeh sing seneng. Ora muter-muter. Tuwa Saring nek
arep neng pabrik jam papat esuk metu kono. Cah-cah sekolah ya akeh sing liwat
kono. Jajal nek ditutup, Man. Melas mbok wong-wong sing biasa lewat kono. Nutup
dalan pada karo nutup rejekimu, Man. Mertuamu ngomel terus ya ben lah. Mengko
kan meneng dhewek.” kata Ibunya dengan logat ngapak-ngapaknya.
===================
Betapa
kagetnya Rusman saat pulang kerja.
Potongan-potongan pohon singkong sepanjang 20 centimeter berjejer rapi
membentuk pagar di ujung utara dan selatan jalan bermasalah tersebut. Istrinya
tersenyum melihat suaminya yang masih keheranan, Digandengnya tangan suaminya.
Rusman menurut saja bagai kerbau dicocok hidungnya.
“
Ini lho mas. Tadi Ibu nelpon. Dua hari lagi, Ibu akan ke sini. Beliau tanya,
apa jalan samping kamar tidur sudah ditutup? Aku jawab belum, mas Rusman belum
sempat. Aku malah dimarahi Ibu. Aku disuruh Ibu memagarinya dengan potongan
pohon singkong. Mas marah, ya?” tanya Mirna dengan polos.
“
Ndak apa-apa, buat apa marah. Masak apa hari ini?” tanya Rusman sambil menuju
ruang makan. Hatinya sedikit khawatir mendengar omongan temannnya dikantor tadi
siang.
“
Yayang, maem sama Bapak yuk!” kata Rusman sambil mencium dan mengelus-elus
perut Mirna.
=================
Pagi
hari saat anak-anak berangkat sekolah, mereka menggerutu karena jalan yang
biasa dilaluinya ditutup oleh deretan pohon singkong.
“
E…EEE…ora ulih liwat kene maning. Dalane
wis ditutup nganggo wit budin neng OM Rusman. “
“
Dadi muter ya. Nek liwat kene padahal
lewih cepet ya?!”kata anak-anak saat berangkat sekolah. Walaupun hanya
berbeda sekian puluh meter tetapi bagi yang terbiasa menggunakan jalan samping
rumah Rusman rasanya jauh. Tidak hanya anak-anak yang kesal jalan pintasnya
ditutup. Orang-orang yang biasa menggunakan jalan tersebut juga memasang wajah
masam saat akan melintasi jalan tersebut.
SEKIAN………
Catatan :
dalan : jalan ora ulih :
tidak boleh
pancen : memang kene :
sini
akeh : banyak maning : lagi
melas :
kasihan wit budin : pohon singkong
mengko : nanti meneng : diam
dhewek : sendiri wis : sudah
nganggo : memakai jajal nek : coba kalau
arep :
akan neng :
ke
sing : yang jam papat : jam empat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar