Di sebuah desa pinggir hutan tinggal keluarga kambing.
Tiga anaknya lucu-lucu. Warnanya hitam, coklat dan putih. Gemuk-gemuk tubuhnya
dan lincah perangainya. Seperti biasa, setiap pagi mereka mencari makan di
pinggir hutan. Akibat kemarau panjang, persediaan makanann di pinggir hutan
dirasa kurang.
Bapak Kambing
kemudian mengajak keluarganya masuk ke dalam hutan. Betapa senangnya ketiga
anaknya mendengar ajakan Bapaknya. Sudah lama sekali mereka ingin masuk hutan.
“ Anak-anakku, nanti di hutan kalian tidak
boleh pergi jauh-jauh. Kalian harus di dekat Bapak dan Ibu. Mengerti?” kata
Bapak Kambing sebelum masuk hutan.
“
Mengerrtiiii....” jawab ketiga anaknya serempak.
Si Hitam, Si
Putih, dan Si Coklat berlarian masuk hutan. Bapak dan iIbunya tidak
bosan-bosannya memperingatkan mereka agar berhati-hati. Bapak dan Ibunya sadar, banyak hal yang belum diketahui oleh
anak-anaknya.
Mereka asyik
makan daun-daun hutan. Setelah perut mereka kenyang, mereka pun duduk-duduk.
Karena lelah dan perut kenyang, ketiga anaknya tertidur. Mereka tidur pulas
sekali. Bapak dan Ibu kambing menjaga anak-anaknya. Angin hutan yang bertiup
sepoi-sepoi, sejuknya suasana hutan, dan
perut yang kenyang membuat Bapak dan Ibu Kambing
terkantuk –kantuk.
Tanpa mereka
sadari, Si Hitam telah bangun. Perutnya berbunyi terus minta diisi. Dilihat
Bapak dan Ibunya tertidur. Dia tidak tega membangunkan mereka. Akhirnya,
sendirian dia mencari makan. Tanpa sadar, dia telah jauh meninggalkan Bapak dan
Ibunya. Saat akan pulang dia bingung mencari arah. Tanpa terasa air matanya
mulai mengalir berjatuhan. Kemudian dia
berdiam di bawah pohon besar.
Saat hutan
mulai gelap, Bapak dan Ibu Kambing terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya
mereka, melihat Si Hitam tidak berada di antara mereka. Berulangkali
dipanggilnya Si Hitam. Akan tetapi sia-sia. Si Hitam tidak muncul-muncul.
Karena sudah gelap, Bapak Kambing memutuskan untuk pulang. Di rumah, mereka
semua berdoa untuk keselamatan Si Hitam.
Di tengah
hutan Si Hitam masih menangis. Takut, sedih, dan merasa bersalah bercampur
menjadi satu.
“ Hitam,
janganlah sedih. Mari aku antar pulang. Kebetulan aku tinggal tidak jauh dari
tempat kalian. “ sebuah suara tiba-tiba mengejutkannya. Ternyata seekor
kunang-kunang.
“ Terima kasih
teman, bagaimana caranya? Aku tidak tahu
jalan.”
“ Kamu
berjalan di belakangku. Ikuti saja cahaya tubuhku. Paham?”
“ Paham
teman.”
Si Hitam
kemudian berjalan mengikuti cahaya kunang-kunang. Cahaya dari tubuh
kunang-kunang memudahkan Si Hitam menyusuri gelapnya hutan. Tidak berapa lama,
mereka tiba di pinggir hutan. Dari kejauhan terlihat Bapaknya masih
berjaga-jaga di depan rumah. Betapa bahagianya saat Si Hitam pulang diantar
tetangganya, Si Kunang-kunang.
“ Terima kasih
atas kebaikan Saudara mengantar anakku pulang,” kata Bapak Kambing.
“ Sudah
sepantasnya sesama tetangga saling menolong,” kata Si Kunang-Kunang sambil
terbang kembali ke hutan. Akhirnya keluarga kambing dapat berkumpul kembali dan
tidur dengan nyenyak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar