Rabu, 10 Februari 2016

Ditolong Kunang-kunang


Di sebuah desa pinggir hutan tinggal keluarga kambing. Tiga anaknya lucu-lucu. Warnanya hitam, coklat dan putih. Gemuk-gemuk tubuhnya dan lincah perangainya. Seperti biasa, setiap pagi mereka mencari makan di pinggir hutan. Akibat kemarau panjang, persediaan makanann di pinggir hutan dirasa kurang.
      Bapak Kambing kemudian mengajak keluarganya masuk ke dalam hutan. Betapa senangnya ketiga anaknya mendengar ajakan Bapaknya. Sudah lama sekali mereka ingin masuk hutan.
      “ Anak-anakku, nanti di hutan kalian tidak boleh pergi jauh-jauh. Kalian harus di dekat Bapak dan Ibu. Mengerti?” kata Bapak Kambing sebelum masuk hutan.
      “ Mengerrtiiii....” jawab ketiga anaknya serempak.
      Si Hitam, Si Putih, dan Si Coklat berlarian masuk hutan. Bapak dan iIbunya tidak bosan-bosannya memperingatkan mereka agar berhati-hati. Bapak dan Ibunya  sadar, banyak hal yang belum diketahui oleh anak-anaknya.
      Mereka asyik makan daun-daun hutan. Setelah perut mereka kenyang, mereka pun duduk-duduk. Karena lelah dan perut kenyang, ketiga anaknya tertidur. Mereka tidur pulas sekali. Bapak dan Ibu kambing menjaga anak-anaknya. Angin hutan yang bertiup sepoi-sepoi, sejuknya suasana hutan,  dan perut  yang  kenyang membuat Bapak dan Ibu Kambing terkantuk –kantuk.
      Tanpa mereka sadari, Si Hitam telah bangun. Perutnya berbunyi terus minta diisi. Dilihat Bapak dan Ibunya tertidur. Dia tidak tega membangunkan mereka. Akhirnya, sendirian dia mencari makan. Tanpa sadar, dia telah jauh meninggalkan Bapak dan Ibunya. Saat akan pulang dia bingung mencari arah. Tanpa terasa air matanya mulai mengalir berjatuhan.  Kemudian dia berdiam di bawah pohon besar. 
      Saat hutan mulai gelap, Bapak dan Ibu Kambing terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya mereka, melihat Si Hitam tidak berada di antara mereka. Berulangkali dipanggilnya Si Hitam. Akan tetapi sia-sia. Si Hitam tidak muncul-muncul. Karena sudah gelap, Bapak Kambing memutuskan untuk pulang. Di rumah, mereka semua berdoa untuk keselamatan Si Hitam.
      Di tengah hutan Si Hitam masih menangis. Takut, sedih, dan merasa bersalah bercampur menjadi satu.
      “ Hitam, janganlah sedih. Mari aku antar pulang. Kebetulan aku tinggal tidak jauh dari tempat kalian. “ sebuah suara tiba-tiba mengejutkannya. Ternyata seekor kunang-kunang.
      “ Terima kasih teman, bagaimana caranya?  Aku tidak tahu jalan.”
      “ Kamu berjalan di belakangku. Ikuti saja cahaya tubuhku. Paham?”
      “ Paham teman.”
      Si Hitam kemudian berjalan mengikuti cahaya kunang-kunang. Cahaya dari tubuh kunang-kunang memudahkan Si Hitam menyusuri gelapnya hutan. Tidak berapa lama, mereka tiba di pinggir hutan. Dari kejauhan terlihat Bapaknya masih berjaga-jaga di depan rumah. Betapa bahagianya saat Si Hitam pulang diantar tetangganya, Si Kunang-kunang.
      “ Terima kasih atas kebaikan Saudara mengantar anakku pulang,” kata Bapak Kambing.
      “ Sudah sepantasnya sesama tetangga saling menolong,” kata Si Kunang-Kunang sambil terbang kembali ke hutan. Akhirnya keluarga kambing dapat berkumpul kembali dan tidur dengan nyenyak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar