Selasa, 05 November 2013

KIRAM DAN DOMBI

Di kaki sebuah bukit, tinggal seorang nenek dan cucunya, Kiram. Sejak kecil Kiram hanya berteman dengan seekor domba yang berbulu cantik. Bulu-bulunya yang putih memantulkan cahaya saat terkena cahaya matahari dan bergerak melambai-lambai diterpa angin. Kemanapun Kiram pergi, Dombi selalu setia menemaninya. Pada suatu hari Kiram bangun kesiangan. Seharian mencangkul di kebun, membuat ia tertidur pulas. Bangun tidur, sahabatnya tidak ada di tempat. Dipanggilnya Dombi berulang- ulang. Tetapi tidak ada tanda- tanda Dombi mendengar panggilannya. “ Maafkan aku Dombi. Aku bangunnya kesiangan. Pasti kamu sedang mencari makan karena aku terlambat bangun”. Mata Kiram mulai memerah menahan tetes air mata yg mulai mengalir. “Kiram, tidak usah bersedih. Kambingmu mungkin ada di balik bukit. Di sana ada peternakan domba pak Terna. Kamu bisa mencarinya di sana.” kata neneknya lembut. Hati Kiram sedikit lega mendengar penuturan neneknya. Masih ada harapan untuk bertemu dengan sahabat satu-satunya tersebut. Dengan langkah mantap dan pasti, ia menuju peternakan Pak Terna di balik bukit. Setelah satu jam berjalan, sampailah ia di peternakan pak Terna. Alangkah terkejutnya Kiram. Dihadapannya bergerombol puluhan bahkan mungkin ratusan domba-domba. Semuanya berbulu putih bersih. Sepintas sangat sulit untuk mencari Dombi di antara ratusan domba-domba tersebut. “ Hai anak kecil, mau mencuri domba-dombaku ya. Sana pergi!!!” seortang pria berkumis tebal menghardiknya pergi. Kebingungannya buyar sesaat. “Maaf Pak….maaf Pak. Saya…saya tidak akan mencuri domba Bapak. Saya sedang mencari domba saya yang hilang. Mungkin ada di antara domba-domba Bapak. “ “ Ah tidak usah berdalih. Untung kamu kepergok. Kalau tidak ketahuan pasti kamu telah mencuri domba-domba saya.!!” Kiram dan Pak Terna bertahan pada pendapatnya masing-,masing. Sampai akhirnta Kiram mengajukan usul pada Pak Terna. “ Begini Pak, saya akan memanggil domba saya. Kalau ada satu ekor yang menghampiri saya berarti itu domba saya. Apakah Bapak setuju?” “ Baiklah nak, usulmu boleh dicoba!!” Keduanya kemudian berdiri bersebelahan, kurang lebih lima puluh meter dari gerombolan domba-domba yang sedang merumput. Setelah mengumpulkan tenaganya, Kiram berteriak lantang memanggil Dombi sahabatnya. “ Dombiiiiiiii…..Dombiiiiii……Dombiiiiiii!!!!!” Tidak lama kemudian terlihat seekor domba berlari-lari memisahkan diri dari rombongan dan menuju tempat Kiram berdiri. Domba tersebut kemudian mengendus-endus kaki Kiram seolah sudah lama kenal. Kiram senang bisa bertemu Dombi kembali. “ Nak, bawalah dombamu. Beri makan yang cukup agar tidak ke sini lagi. Kalau kamu kesepian kamu dan dombamu bisa main ke sini.” Hari ini Kiram sungguh berbahagia. Menemukan kembali Dombi dan mempunyai sahabat baru lagi, Pak Terna dan domba-dombanya. Sepanjang perjalanan pulang ia bercanda dengan dombanya tersebut. Dombi sesekali berlompatan menimpali canda Kiram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar