Rabu, 06 November 2013

SI BUTA DAN SI BUNTUNG

Kerajaan Wotan Mas dulunya sangat makmur dan rakyatnya hidup tenteram. Akan tetapi semenjak dikuasai kerajaan Poh Pitu rakyat Wtan Mas hidupnya menjadi tidak tenang. Setiap saat mereka was-was. Setiap saat bisa saja pengawal kerajaan Poh Pitu membawa mereka ke istana sebagai santapan raja. Ya, Raja Tanpa Welas sangat suka daging manusia. Sebelum menjadi santapan raja, mereka dijebloskan ke dalam penjara dan diberi makanan yang enak-enak agar badan mereka gemuk. Pada suatu hari, pengawal kerajaan sampai di desa dimana Si Buta tinggal. Penduduk yang lain sudah melarikan diri semua, kecuali Si Buta. Akhirnya ia dibawa ke hadapan Raja Tanpa Welas. “ Wahai sang raja, daging hamba tidaklah enak. Hamba takut sang raja tertular penyakit hamba sehingga menjadi buta seperti hamba.” kata Si Buta memelas. “ Pengawal!!! Kenapa orang buta sepeti ini dibawa ke hadapanku. Jebloskan dia ke penjara!!” Akhirnya Si Buta dijebloskan ke dalam penjara. Di sana ia bertemu dengan orang-orang dari berbagai pelosok desa menunggu giliran di makan raja. “ Kita senasib Saudaraku. Kita sama-sama mempunyai badan yang tidak lengkap. Pengawal raja dengan mudah membawa kita ke tempat ini. Pernahkah melihat pemandangan disekitarmu, Saudaraku?” tiba-tiba seseorang menyapa Si Buta. “ Tentu saja belum. Aku sejak lahir sudah seperti ini. “ “ Maukah aku tolong untuk melihat dunia?” “ Apakah ada orang yang bisa menyembuhkan orang buta seperti aku? Untuk keluar dari penjara saja tidak mugkin.” Orang yang menyapanya lantas mengusapkan tanganya yang tersisa ke mata Si Buta. Betapa terkejutnya Si Buta. Matanya sekarang dapat untuk melihat. Dihadapannya berdiri sesosok orang tua bertubuh kurus kering dengan kedua tangannya yang hamper tidak ada. “ Inilah dunia. Pengap dan sempit. Tetapi kita bisa melihat dunia yang luas dan menyenangkan bila mampu mengalahkan raja yang lalim itu.” “ Terima kasih Saudaraku. Anda telah memperlihatkan dunia kepadaku. Dulu, saat di desa, hampir tiap hari aku mendengar kelaliman Raja Tanpa Welas hingga aku punya keinginan mengalahkan raja lalim tersebut. Tetapi apa dayaku. Aku tidak bisa melihat apa-apa di sekelilingku. Sekarang baru terlaksana niatku!!” Dengan tenang Si Buta berjalan ke jeruji besi. Tangan-tangannya yang kekar membuka jeruji penjara. Dengan mudah penjaga penjara dilumpuhkannya. Orang-orang yang akan dijadikan santapan raja dikeluarkannya semua. Kemudian ia menuju istana raja. Pengawal istana mengepungnya dengan senjata tombak dan pedang di tangan. Pertarungan berlangsung sangat seru. Kekuatan Si Buta melebihi kekuatan orang biasa. Tubuhnya kebal dari tusukan senjata apapun. Akhirnya pengawal istana dapat dikalahkan. “ Panglima, tangkap orang kampung itu!!!” teriak raja pada panglima perangnya. Lelaki bertubuh tinggi dan tegap meloncat seakan terbang ke arah Si Buta berdiri. Akhirnya terjadi pertempuran yang sengit. Keduanya sama-sama mengeluarkan kepandaiannya masing-masing. Keduanya sama-sama kuat dan tangguh. Tetapi pada suatu kesempatan, pedang Si Buta berhasil mengakhiri perlawanan panglima kerajaan. Di luar istana, orang-orang yang dikeluarkan dari penjara oleh Si Buta bertempur melawan prajurit istana. Mengetahui panglima perangnya tewas, semangat bertempur para prajurit istana menurun. Akhirnya mereka dapat ditaklukan oleh teman-teman Si Buta. Melihat panglima perangnya tewas kena sabetan pedang Si Buta, kemarahan Raja Tanpa Welas sampai ubun-ubun. Dilibasnya tubuh Si Buta dengan pedang di tangan. Si Buta terlibat pertarungan yang sengit kembali. Pedang Si Buta terlempar saat berbenturan dengan pedang Raja Tanpa Welas. Pada saat yang kritis, dengan segenap kekuatannya, Si Buta mengangkat batu sebesar anak kerbau di sampingnya. Batu tersebut kemudian dilemparkannya ke tubuh raja. Raja Tanpa Welas tidak bisa mengelak. Tubuhnya tertimpa batu sebesar anak kerbau tersebut. Orang-orang bersorak-sorai melihat kemenangan Si Buta. Ia akhirnya diangkat sebagai raja. Rakyat Wotan Mas akhirnya dapat hidup tenteram dan makmur kembali.

Selasa, 05 November 2013

KIRAM DAN DOMBI

Di kaki sebuah bukit, tinggal seorang nenek dan cucunya, Kiram. Sejak kecil Kiram hanya berteman dengan seekor domba yang berbulu cantik. Bulu-bulunya yang putih memantulkan cahaya saat terkena cahaya matahari dan bergerak melambai-lambai diterpa angin. Kemanapun Kiram pergi, Dombi selalu setia menemaninya. Pada suatu hari Kiram bangun kesiangan. Seharian mencangkul di kebun, membuat ia tertidur pulas. Bangun tidur, sahabatnya tidak ada di tempat. Dipanggilnya Dombi berulang- ulang. Tetapi tidak ada tanda- tanda Dombi mendengar panggilannya. “ Maafkan aku Dombi. Aku bangunnya kesiangan. Pasti kamu sedang mencari makan karena aku terlambat bangun”. Mata Kiram mulai memerah menahan tetes air mata yg mulai mengalir. “Kiram, tidak usah bersedih. Kambingmu mungkin ada di balik bukit. Di sana ada peternakan domba pak Terna. Kamu bisa mencarinya di sana.” kata neneknya lembut. Hati Kiram sedikit lega mendengar penuturan neneknya. Masih ada harapan untuk bertemu dengan sahabat satu-satunya tersebut. Dengan langkah mantap dan pasti, ia menuju peternakan Pak Terna di balik bukit. Setelah satu jam berjalan, sampailah ia di peternakan pak Terna. Alangkah terkejutnya Kiram. Dihadapannya bergerombol puluhan bahkan mungkin ratusan domba-domba. Semuanya berbulu putih bersih. Sepintas sangat sulit untuk mencari Dombi di antara ratusan domba-domba tersebut. “ Hai anak kecil, mau mencuri domba-dombaku ya. Sana pergi!!!” seortang pria berkumis tebal menghardiknya pergi. Kebingungannya buyar sesaat. “Maaf Pak….maaf Pak. Saya…saya tidak akan mencuri domba Bapak. Saya sedang mencari domba saya yang hilang. Mungkin ada di antara domba-domba Bapak. “ “ Ah tidak usah berdalih. Untung kamu kepergok. Kalau tidak ketahuan pasti kamu telah mencuri domba-domba saya.!!” Kiram dan Pak Terna bertahan pada pendapatnya masing-,masing. Sampai akhirnta Kiram mengajukan usul pada Pak Terna. “ Begini Pak, saya akan memanggil domba saya. Kalau ada satu ekor yang menghampiri saya berarti itu domba saya. Apakah Bapak setuju?” “ Baiklah nak, usulmu boleh dicoba!!” Keduanya kemudian berdiri bersebelahan, kurang lebih lima puluh meter dari gerombolan domba-domba yang sedang merumput. Setelah mengumpulkan tenaganya, Kiram berteriak lantang memanggil Dombi sahabatnya. “ Dombiiiiiiii…..Dombiiiiii……Dombiiiiiii!!!!!” Tidak lama kemudian terlihat seekor domba berlari-lari memisahkan diri dari rombongan dan menuju tempat Kiram berdiri. Domba tersebut kemudian mengendus-endus kaki Kiram seolah sudah lama kenal. Kiram senang bisa bertemu Dombi kembali. “ Nak, bawalah dombamu. Beri makan yang cukup agar tidak ke sini lagi. Kalau kamu kesepian kamu dan dombamu bisa main ke sini.” Hari ini Kiram sungguh berbahagia. Menemukan kembali Dombi dan mempunyai sahabat baru lagi, Pak Terna dan domba-dombanya. Sepanjang perjalanan pulang ia bercanda dengan dombanya tersebut. Dombi sesekali berlompatan menimpali canda Kiram.

Selasa, 31 Juli 2012

JALAN KE TEMPAT-MU

Lelaki tua di gelap malam
gelap mata gelap hati
hati bimbang menatap arah
mata nanar menatap sedih

Lelaki tua di gelap malam
lupa arah lupa tujuan
desah menggugah risau
asap rokok mengusir galau
arah mana jalan ke tempat-Mu

                 Tamanrejo, 2010

Senin, 30 Juli 2012

KU RINDU HUTANKU

Hijau pepohonan
membiusku dalam kesejukan
nyanyian burung
menambah syahdu kehidupan

Tapi,.......
kini hijau hutanku entah kemana
menyisakan hamparan tonggak dan tanah merana
sisa-sisa keserakahan manusia


Kurindu cericit burung
Kurindu desah dedaunan
Kurindu hijau hutanku

Blora, Juli 2012  

Minggu, 06 Mei 2012

Rindu Kampung Halaman

Wajah-wajah lelah
Mata tajam mencari celah
Di sela-sela rerimbunan belantara kota
Sumpah serapah dan suara mesin beradu

Ah, aku lelah....
Penat seharian mendengar derum mobil mengerang
Pening kepalaku saat terdampar di lautan metropolitan
Rindu aku akan kampung halaman


Depok, Mei 2012