Minggu, 15 November 2015

B U K I T P R


“ Baiklah anak-anak, untuk memperjelas keterangan Ibu tadi, silahkan kalian mengerjakan tugas halaman 24. Dikumpulkan pada pertemuan kita yang akan datang!”  Anak-anak kelas IV SD Tunas Bangsa memperhatikan apa yang ditugaskan gurunya sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas bersiap-siap pulang.
            “ Gus, nanti dikerjakan bareng di rumahku, habis makan siang,” ajak Anto pada seorang anak bertubuh gendut.
            “ Wah, besok-besok saja, aku mau main layang-layang.”
            Beberapa saat kemudian terlihat anak-anak berhamburan dari dalam kelas menuju ke rumahnya masing-masing.
            “ Agus, PRmu sudah dikerjakan? Tiap hari main layang-layang terus!” kata ibunya saat melihat Agus keluar rumah sambil menenteng layang-layangnya.
            Agus menjawab sekenanya pertanyaan ibunya. Ia terus saja ngeloyor menuju lapangan di komplek perumahannya. Ibunya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya tersebut.  Bila sudah membawa layang-layangnya,  bisa seharian di lapangan. Saat matahari terbenam ia baru pulang.
            “ Agus, masak tiap hari seharian main layang-layang.  Memangnya tidak punya PR? Sebenarnya kamu harus mulai bisa membagi waktumu, antara main, belajar, dan istirahat,”  kata Ibunya saat makan bersama.
            “ PRnya sepertinya sangat mudah bagi Agus. Tidak sampai setengah jam pasti selesai,” kata Agus sambil mengambil daging ayam yang paling gemuk di depannya.
            “ Wah berarti anak Bapak pintar. Tapi, PR itu dikerjakan bukan hanya dilihat. Dulu, saat Bapakmu masih sekolah, Bapak sukanya menggampangkan setiap tugas dari Bapak dan Ibu Guru. Bapak merasa tugas matematika yang ditugaskan guru sangat mudah. Ternyata saat dikerjakan tidak semudah seperti yang Bapak kira. Membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya. Coba hitung, kalau satu soal saja membutuhkan waktu setengah jam, berapa jam waktu untuk menyelesaikan sepuluh soal? Bagaimana bila dalam sehari  ada PR dari  2 atau 3 pelajaran?” kata Bapaknya mencoba mengingatkan.     
            “ Alah, Pak….Pak…Agus mau ke kamar, belajar,” katanya sambil meninggalkan Bapak dan Ibunya yang masih makan. Sambil tiduran Agus mencoba membuka-buka bukunya. Perut yang kenyang dan tubuh yang lelah membuat matanya tidak bisa diajak membaca buku. Buku yang dipegangnya akhirnya jatuh menimpa wajahnya. Agus pun melayang ke alam mimpi.
            Satu hari, dua hari, tiga hari, sepulang sekolah Agus selalu bermain layang-layang sampai matahari tenggelam. Sampai pada suatu malam ia terkejut melihat buku-buku catatannnya. Ternyata besok pelajaran Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris yang semua ada PRnya.
            “ Hukumannya bagi yang tidak mengerjakan PR adalah berdiri di depan kelas.,” kata guru Matematika yang juga wali kelasnya tersebut.  Dengan terpaksa malam itu juga ketiga PR tersebut harus selesai. Saat kentongan dari gardu sebelah rumah dipukul 12 kali, Agus baru selesai mengerjakan PRnya. Tanpa membereskan meja belajarnya, ia membungkus tubuhnya dengan selimut merah tebal yang selalu setia menemaninya berjalan-jalan di alam mimpi.
            Keesokan pagi Ibunya dengan susah payah membangunkan anak semata wayangnya tersebut. Setelah mandi dan sarapan pagi dengan wajah menahan kantuk, Agus berjalan menyusuri trotoar menuju sekolahnya.
            “ Waduh, enak juga jadi tukang becak. Jam-jam segini masih molor di atas becak,” gumam batinnya saat melintasi pangkalan becak.
            Dua jam pelajaran dilaluinya dengan lancar. Tetapi saat pelajaran Matematika, Agus tidak kuasa menahan kantuknya. Seperti biasa Bu Ami menyuruh murid-muridnya mengerjakan PR di depan kelas, urut berdasar tempat duduknya.
            “ Wah, aku masih lumayan lama,” gumam Agus sambil meletakkan kepalanya di atas tumpukkan kedua tangannya yang dijadikan bantal. Tanpa ia sadari, ia pun tertidur.
            “ Nomer 19 siapa?” tanya Bu Ami.
            “ Ha…Ha….Ha…Agus Bu!!!” serentak seisi kelas menjawab pertanyaan gurunya.  Bu Ami langsung menatap tempat duduk Agus. Dilihatnya ia masih tertidur dengan pulasnya. Muka Bu Ami merah padam menahan marah.
            “ Agus, maju!”
            Teriakan Bu Ami sontak mengagetkan Agus. Ia pun kebingungan. Joko, teman sebangkunya, mengingatkannya akan perintah Bu Ami tadi. Agus pun maju dengan hati berdebar-debar akibat kesalahannya. Mukanya beraneka warna menahan malu.
            “ Agus, kenapa kamu sampai ketiduran? Apa kamu ikut siskamling tadi malam?” tanya Bu Ami dengan lembut tanpa terlihat marah sedikitpun. Agus pun menceritakan kerja lemburnya tadi malam.
            “ Makanya jangan menunda-nunda mengerjakan sesuatu. Tiap  pulang sekolah, kerjakan dulu PRnya baru bermain. Sedikit-sedikit nanti kalau bertumpuk menjadi bukit lho. Ibu harap, kejadian ini  tidak diulangi kembali. Ya sudah, sekarang kerjakan nomer 19!”
            “ Baik Bu.”
            Sejak saat itu Agus menjadi sadar. Sesuatu yang sedikit apabila dikumpulkan akan menjadi banyak. PR yang sedikit apabila dikumpulkan akan menjadi bukit PR yang mungkin ia sendiri tidak akan sanggup mengerjakan semuanya.







Jalan Samping Rumah


            Rusman tampak mondar-mandir di sebuah klinik bersalin. Ia dan  Mirna, istrinya, sedang menanti kelahiran anak pertamanya. Wajah Rusman tampak kuyu dan lelah. Tepat saat kentongan di pos ronda bertalu  dua kali istrinya masuk klinik bersalin tersebut.       Rusman menemani istrinya yang menahan perutnya yang sangat sakit. Menurut bidan jaga baru pembukaan empat.  Kemungkinan setelah shubuh baru melahirkan.  Bagi Rusman jarum jam di klinik berjalan sangat lambat. Sambil mengelus-elus perut istrinya mulut Rusman tampak komat-kamit membaca doa demi kesehatan dan keselamatan dua jiwa yang sangat disayanginya.
            Sayup-sayup adzan shubuh berkumandang bersahut-sahutan. Istrinya dipindah ke ruang bersalin. Rusman mengiringinya dengan doa dan kepasrahan pada Allah Yang Maha Berkehendak.  Kelahiran, kematian, rizki dan jodoh semuanya sudah diatur olehNya. Kita hanya berusaha dan Allahlah yang menentukan. Tangis bayi dari ruang bersalin mengagetkan Rusman. Air matanya menetes. Bahagia dan cemas campur aduk menjadi satu. 
            “ Pak Rusman, selamat ya. Anaknya ganteng seperti bapaknya. Ibunya juga sehat.” kata dokter Irawati sambil menyalami Rusman.
            “ Alkhamdulillahi robbil ‘alamin. Anak saya laki-laki dok? Sudah boleh saya melihatnya dok?”
            “ Sudah pak. Hanya saja ada sedikit masalah pada anak bapak. Klinik kami tidak mampu menanganinya. Kami akan merujuk ke rumah sakit yang mampu menangani anak bapak.”
            Dug. Serasa ada palu yang menghantam dada Rusman mendengar perkataan dokter yang menangani istrinya tersebut.
            “ Maksud dokter?!!”
            “ Begini Pak. Anak bapak tidak mempunyai lubang anus. Terus terang, kami tidak sanggup untuk menangani pasien dengan kondisi seperti anak bapak.   Rumah sakit-rumah sakit yang lebih besar dengan dokter dan perlengkapan yang lengkap, Insya Allah bisa mengatasi kasus yang diderita anak bapak. Bapak tidak usah khawatir.”

            Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mata Rusman menerawang jauh.

====================

            Seperti biasa setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, Rusman selalu membersihkan dan memanaskan sepeda motornya. Anak-anak sekolah dari arah utara, berkelompok berjalan melalui samping rumahnya. Rusman berhenti sejenak. Anak-anak sekolah menyapanya. Maklum di desa. Tegur sapa antar tetangga sudah biasa.  Sebentar kemudian Rusman melanjutkan mengelus-elus kembali motor satu-satunya tersebut.  
            “ Man, jalan samping ditutup saja,” kata ibu mertuanya saat berkunjung ke tempatnya. Kamar tidur yang dipakai Ibu mertuanya memang persis di samping jalan setapak tersebut. Jalan tersebut awalnya digunakan Rusman dan Mirna, istrinya,  menuju ke rumah tetangga di selatan rumah. Sebenarya ada jalan lain tetapi apabila menggunakan jalan samping rumah tersebut lebih cepat. Tak lama kemudian tetangga-tetangganya menggunakan jalan pintas tersebut. Sekarang jalan tersebut bukan jalan setapak lagi.
            “ Kalau ditutup aku kasihan sama anak-anak yang biasa menggunakan jalan tersebut. Tetapi kalau tidak, rumahku menjadi tempat berseliweran orang-orang dan anak-anak sekolah.  Berisik. Belum lagi besok, saat anakku lahir. Tidurnya pasti tidak akan nyenyak karena sering mendengar suara gaduh dari jalan tersebut.” Hati Rusman berperang antara menutup jalan tersebut atau membiarkannya seperti biasa. 
            Menutup jalan tersebut sangatlah mudah. Tinggal memberi tanaman di ujung-ujung jalan saja, orang-orang dan anak-anak pasti tidak akan berani melaluinya. Hanya saja keberanian Rusman untuk melakukan hal tersebut tidak ada. Jalan tersebut memang di pekarangan rumahnya. Bukan di tanah pekarangan orang lain.  Menutup tanahnya sendiri apa salahnya. Tetapi ia ragu untuk melakukannya.
            “ Kang, sudah siang. Berangkat kerja tidak??!!.” Mirna, istrinya mengagetkannya. Rusman cepat-cepat bergegas   meninggalkan motornya. Dielusnya perut istrinya sesaat. Perut istrinya memang belum tampak besar. Maklum baru usia kehamilan  2 bulan. Ini adalah anaknya yang pertama. Setelah menunggu 6 tahun, mereka baru dikaruniai keturunan.
            “ Sudah siang, nanti terlambat lagi seperti kemarin.” kata Mirna mengingatkannya saat Rusman masih mengelus-elus perut istrinya.
            “ Makan yang banyak lho. Biar anak kita sehat. “
            Rusman bekerja di Kantor Pelayanan Pajak di kota kabupaten. Sebelumnya ia di kantor yang sama hanya di Jakarta. Di kantor, ia juga meminta nasehat kepada teman-temannya.  Dia ceritakan jalan di samping rumahnya sedetil-detilnya. Gunawan dan Catur, temannya satu ruang dengannya mendengarkan dengan seksama.
            “ Kalau menurutku tidak masalah jalan itu ditutup. Kan masih pekarangan kamu sendiri. Mumpung belum lebar ditutup saja. Nanti kalu sudah lebar dan di paving kita tidak enak sama tetangga, “ kata Gunawan dengan logat Surabaya yang masih kental.
            “ Wah, kalau aku tidak setuju. Walaupun itu jalan setapak dan hanya di pekarangan kita, tetap saja jalan tersebut sarana berlalu lalangnya orang. Itu sudah milik umum. Usul saya tidak usah ditutup. Digeser saja, menjauh dari rumahmu,” sambung Catur.
            “ Untuk apa repot-repot menggeser jalan segala.!” kata Gunawan dengan ketus.
            “ Eh dengar ya. Aku punya tetangga. Dulu anaknya meninggal gara-gara tidak punya lubang anus. Kabar-kabar yang berkembang di desa saat itu, gara-garanya dia menutup jalan di dekat rumahnya. Ini seperti kasusnya Rusman. Mumpung belum kejadian, laksanakan saja usulku.” tambah Catur memasang wajah serius.
            “ Itu takhayul. Aku tidak percaya hal begituan. Lahir, mati, rejeki, dan jodoh, sudah ditentukan oleh Allah. Sebagai umat yang taat beragama kita tidak usah percaya pada  hal-hal seperti itu.” kata Rusman.
            “ Percaya atau tidak itu terserah kalian. Apalagi istri Rusman sedang hamil muda. Kata orang tua-orang tua di kampungku, banyak hal yang harus dijauhi saat istri kita hamil dibawah usia 4 bulan. Tidak boleh membunuh binatang, kalau terpaksa membunuh harus menyebut terlebih dulu. Tidak boleh memandang yng jelek-jelek dan yang lain. Sudahlah, kalian pasti tidak akan percaya ini semua.  Terserah. Aku lapar. Aku mau ke warung depan. Kalian pesen apa?”
            Akhirnya obrolan jalan samping rumah tidak menghasilkan solusi apapun. Rusman memandang kepergian Catur ke warung depan dengan pikiran masih berkecamuk. Menutup atau tidak. Menutup berarti harus siap mendengar celoteh para tetangga yang biasa melintas di jalan tersebut  dan mungkin bisa memerahkan telinga Rusman. Tidak menutup berarti Rusman harus bersiap dari omelan ibu mertuanya. Bu Naryo, ibu mertuanya berulangkali menyuruhnya menutup jalan tersebut. Setiap kali berkunjung ke kampung, kangen anaknya, selalu berkomentar kamarnya ramai dan berisik. Apalagi saat anak-anak berangkat dan pulang sekolah. Menggeser jalan sangat mustahil. Pak Sastro yang tanahnya berhimpitan dengan pekarangan Rusman tidak mengizinkan sejengkal tanahnya dibuat jalan. Walau jalan setapak sekalipun. Sebulan yang lalu, Rusman bertamu ke rumah Pak   Sastro untuk meminta izin menggeser jalan setapak di samping rumah. Hanya dada sesak dan telinga yang memerah yang didapat Rusman. Pak Sastro memang terkenal orang paling pelit di kampung Jambusari. 
            Ibunya sebenarnya juga tidak setuju saat dimintai pendapatnya tentang menutup jalan samping rumah tersebut.
            “ Ora usah ditutup Man. Dalan kae pancen dalan cilik tapi dalan kae akeh sing seneng. Ora muter-muter. Tuwa Saring nek arep neng pabrik jam papat esuk metu kono. Cah-cah sekolah ya akeh sing liwat kono. Jajal nek ditutup, Man. Melas mbok wong-wong sing biasa lewat kono. Nutup dalan pada karo nutup rejekimu, Man. Mertuamu ngomel terus ya ben lah. Mengko kan meneng dhewek.” kata Ibunya dengan logat ngapak-ngapaknya.
===================      

            Betapa kagetnya Rusman saat pulang kerja.   Potongan-potongan pohon singkong sepanjang 20 centimeter berjejer rapi membentuk pagar di ujung utara dan selatan jalan bermasalah tersebut. Istrinya tersenyum melihat suaminya yang masih keheranan, Digandengnya tangan suaminya. Rusman menurut saja bagai kerbau dicocok hidungnya.
            “ Ini lho mas. Tadi Ibu nelpon. Dua hari lagi, Ibu akan ke sini. Beliau tanya, apa jalan samping kamar tidur sudah ditutup? Aku jawab belum, mas Rusman belum sempat. Aku malah dimarahi Ibu. Aku disuruh Ibu memagarinya dengan potongan pohon singkong. Mas marah, ya?” tanya Mirna dengan polos.
            “ Ndak apa-apa, buat apa marah. Masak apa hari ini?” tanya Rusman sambil menuju ruang makan. Hatinya sedikit khawatir mendengar omongan temannnya dikantor tadi siang.
            “ Yayang, maem sama Bapak yuk!” kata Rusman sambil mencium dan mengelus-elus perut Mirna.              
    
=================
            Pagi hari saat anak-anak berangkat sekolah, mereka menggerutu karena jalan yang biasa dilaluinya ditutup oleh deretan pohon singkong.
            “ E…EEE…ora ulih liwat kene maning. Dalane wis ditutup nganggo wit budin neng OM Rusman. “
            “ Dadi muter ya. Nek liwat kene padahal lewih cepet ya?!”kata anak-anak saat berangkat sekolah. Walaupun hanya berbeda sekian puluh meter tetapi bagi yang terbiasa menggunakan jalan samping rumah Rusman rasanya jauh. Tidak hanya anak-anak yang kesal jalan pintasnya ditutup. Orang-orang yang biasa menggunakan jalan tersebut juga memasang wajah masam saat akan melintasi jalan tersebut.

SEKIAN………

 Catatan :
 dalan              : jalan                         ora ulih           : tidak boleh
 pancen           : memang                   kene                : sini
 akeh               : banyak                     maning           : lagi
 melas              : kasihan                     wit budin         : pohon singkong
 mengko          : nanti                         meneng           : diam
 dhewek           : sendiri                      wis                   : sudah
nganggo          : memakai                  jajal nek          : coba kalau
arep                 : akan                         neng                : ke
sing                 : yang                          jam papat        : jam empat



Minggu, 17 Agustus 2014

Kambing Yang Cerdik


            Di suatu padang rumput terlihat  tiga ekor kambing yang sedang  merumput.
            “ Hey, teman-teman, rumput di seberang sungai sangat hijau, segar-segar lagi. Kita kesana yuk!!!”kata kambing yang paling kecil mengajukan usul.
            “ Bagaimana kita bisa ke sana, kabarnya di sana tinggal seekor harimau yang besar dan bisa memangsa kita semua,” kata kambing yang gemuk.
            “ Aku punya ide. Sini aku bisiki,” kata kambing yang paling kecil. Kedua kambing yang lain mendekatkan telinganya padanya.  
            Tiada berapa lama kemudian, kambing yang paling kecil berjalan menuju padang rumput di seberang sungai. Saat tiba di seberang sungai, ia dikejutkan oleh sebuah teriakan.
            “ Hei, mau kemana!!!! Ini wilayahku. Siapa yang berani kesini adalah makananku!!!” kata harimau dengan sombongnya.
            Kambing kecil itu panik juga berhadapan dengan raja hutan tersebut. Tetapi sebentar kemudian ia mampu mengendalikan dirinya.
            “ Hei, Tuan. Daging saya tidaklah enak. Sudah dua hari tidak makan. Sebentar lagi kakak saya menyusul. Pasti dia lebih enak dari saya. Lebih gemuk lagi.”
            “ Tubuhmu memang sangat kecil dan pasti tidak mengenyangkanku. Baiklah aku tunggu    kakakmu saja!!!”
            Akhirnya kambing kecil bisa mendapatkan rumput yang sangat segar. Tidak berapa lama kemudian, kambing yang agak besar ingin menyusul  si kecil. Saat melewati sungai ia dikejutkan oleh teriakan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
            “ Hei, siapa kau. Berani-beraninya ke sini. Barangsiapa yang masuk ke wilayahku akan kumakan!”
            “ Pcrcuma saja Tuan memakan saya. Saya sudah dua hari tidak makan. Lihat, tubuh saya tinggal kulit pembalut tulang. Sebentar lagi, kakakku yang paling gemuk ke sini. Dagingnya tentu enak di makan dan bisa mengenyangkan Tuan,” kata kambing yang kedua dengan mengiba-iba.
            Akhirnya iapun dibiarkan menikmati segarnya rumput hijau.
            Sesaat kemudian kambing yang paling gemuk ingin menyusul kedua adiknya. Seperti kedua adiknya, ia pun dikejutkan oleh teriakan harimau yang bermaksud memangsanya. Tetapi ia mampu mengendalikan dirinya dan berkata dengan tenang kepada harimau.
            “ Teman, kulihat hari ini kau lebih gagah daripada hari-hari yang  kemarin. Apakah hari ini engkau sudah bercermin? Coba lihat dirimu di sungai itu,” kata kambing dengan mantap. Sang raja hutan hatinya berbunga-bunga   mendengar pujian kambing tersebut. Ingin cepat-cepat rasanya bercermin di sungai.
            “ Aku akan bercermin dulu sebelum memakanmu!!!
            Harimau memasang matanya tajam-tajam. Meskipun airnya jernih tetapi permukaan air dengan dirinya terpaut cukup jauh. Seperti biasa, saat musim kemarau berkepanjangan sungai tersebut airnya tinggal  sedikit. Batu-batu besar dan runcing tampak berserakan di sungai. Nah, pada saat harimau bercermin, kambing menendangnya dengan sekuat tenaga. Harimau pun jatuh ke sungai yang curam tersebut. Batu-batu sungai yang besar dan runcing tersebut telah menanti tubuh harimau.

            Akhirnya karena kekompakan dan kecerdikannya, ketiga kambing tersebut bisa menikmati segarnya rumput hijau dengan tenang.  

Jumat, 15 Agustus 2014

Burung Yang Cerdik


Terlihat beberapa ekor anak burung bangau sedang disuapi induknya. Gemericit suara mereka, saat berebut makan memecah kesunyian hutan. Anak-anak bangau terlihat sangat lapar. Suara gemericit mereka membangunkan Sanca, ular yang sedang tertidur lelap di bawah mereka.
“ Oh, rupanya anak-anak bangau sedang sarapan pagi. Aku jadi lapar,” batin Sanca sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Tiada berapa lama kemudian ia pun meninggalkan tempat bersarangnya. Kesana-kemari ia mencari mangsa tetapi tiada hasil. Perutnya terus berbunyi minta diisi.
“ Oiii….induk bangau pasti sedang mencari makan buat anak-anaknya. Aku akan menangkap mereka saja selagi keduanya lengah.” Akhirnya timbul niat jahat Sanca.
Dugaannya tepat. Kedua induk bangau tidak kelihatan. Kesempatan itu tidak disia-siakan Sanca. Ia kemudian merayap ke atas menuju sarang bangau berada. Setelah melahap seekor dari mereka, ia pun turun. Perutnya terlihat menggelembung. Perbuatan itu diulanginya  sampai anak-anak bangau habis.
Kedua induk bangau kebingungan. Setiap hari anaknya satu per satu hilang.
“ Bu, tiap hari anak kita ada yang hilang. Pasti Sanca di bawah telah memakan anak-anak kita selagi kita di luar!” Pada hari keempat tanpa sengaja induk bangau melihat Sanca sedang keluar dari sarang bangau. Saat itu juga kedua induk bangau menyusun siasat menjebak Sanca.
Pagi harinya, kedua induk bangau terlihat sangat sibuk. Bolak-balik mereka terbang dari sungai ke tempat cerpelai berada. Tampak seekor ikan dijepit diparuhnya. Sesaat kemudian dijatuhkannya ikan tersebut di dekat sarang cerpelai. Kemudia ia terbang lagi mencari ikan di sungai. Mereka bahu-membahu meletakkan ikan-ikan dari sarang cerpelai sampai tempat tinggal Sanca.
Saat bangun, betapa senangnya cerpelai. Di depannya teronggok ikan yang sangat segar. Sekali lahap ikan itu tiada tersisa. Akan tetapi hidungnya yang sangat tajam masih mencium bau ikan segar di sekitar tempat itu.Ternyata, beberapa meter dari tempatnya berdiri teronggok ikan segar lagi. Ikan itu pun dimakannya tanpa sisa juga.
Akhirnya cerpelai sampai pada ikan yang terakhir. Ternyata ikan itu juga sedang diincar oleh Sanca yang baru bangun dari tidurnya. Kedua binatang tersebut akhirnya bertarung memperebutkan ikan yang malang. Sanca akhirnya dapat dikalahkan oleh cerpelai.
Kedua induk bangau bahagia melihat Sanca binasa. Akhirnya mereka dapat hidup aman dan tenteram tanpa takut gangguan Sanca.










Untukmu Guru

A....B...C..D...E...F..G...H....
darimu aku belajar membaca
1...2...3...4...5...
darimu aku belajar angka

Entah apa yang terjadi
bila kemalasanku, engkau biarkan
bila kenakalanku, engkau acuhkan
bila ketidaktahuanku, engkau biarkan

Entah bagaimana aku membalas,
dulu engkau pernah berkata
" Kami tidak ingin balas jasa kalian, anakku
kami akan bahagia apabila kalian tumbuh
menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa"