Kamis, 28 Januari 2016

Udang yang Sombong


            Di suatu lautan terdapat seekor udang yang sangat sombong. Dia tidak mau berteman dengan mahluk lain penghuni lauytan tersebut. Kemana-mana selalu sendiri, tidak mempunyai teman. Dia anggapp dirinyalah yang paling bersih dan suci.
            Pada suatu ketika Udang bertemu bandeng. Disapanya bandeng tersebut.
            “ Hai bandeng, kamu jorok sekali. Tubuhmu sampai hitam begitu. Tidak seperti aku. Tidak tahukah kau, sesungguhnya akulah penghuni lautan ini yang paling bersih dan suci!” kata udang menyombongkan diri.
            “ Apa buktinya?” Tanya bandeng tidak percaya.
            “ Pandanglah aku baik-nbaik, tubuhku bersih. Tidak terdapat   kotoran sedikitpun di dalamnya. Tubuhku licin, mengkilat, dan berkilauan bagai kaca. Tidak seperti kau, bandeng. Badanmu bersisiik, dan di dalam perutmu terdapat banyak kotoran!”
            “ Meskipun perutku terdapat kotoran namun tersimpan rapat dan rapi. Sehingga tidak berbau menusuk hidung tetangga  kita. Kamu sendiri yang tidak menyadari akan keadaan dirimu!”
            “ Memang aku bersih kok!” udang tidak mau mengakui kesombongannya.
            “ Bukankan kemana saja kamu pergi selalu membawa kotoran di tengkukmu. Kau sendiri tentu tidak dapat melihatnya. Tetapi kami semua  menyaksikan dan selalu mencium bau busuk klotoranmu yang tidak disimpan dengan baik. Itu bukti nyata kepicikan dan ketololanmu, udang!” kata bandeng berusaha meyakinkan udang.
            Mendengar  perkataan bandeng tersebut, udang diam tidak membantah. Dia hanya berusaha melipat tubuhnya, untuk menyembunyikan  kotoran yang terdapat di tyengkuknya. Akan tetapi yang terlipat justru ekornya. Kotorannya malah semakin terlihat.
            “ Katanya paling b ersih, lihat kotoranmu banmayk sekali. Hiiii, jijik!!” kata bandeng.
            Secepat kilat udang meloncat  meninggalkan bandeng tanpa permisi. Karena malu dia bersembunyi di balik batu.
            Bandeng sadar. Ternyata sangat sulit untuk melihat kesalahan diri sendiri dibanding melihat kesalahan dan keburukn orang lain.



Kamis, 14 Januari 2016

PELUKIS ISTANA

Di sebuah desa pinggiran hutan larangan tinggalah seorang ibu dengan seorang anaknya yang bernama Kuromu. Mereka berdua tinggal di sebuah gubug  yang sangat sederhana. Kuromu  sangat suka menggambar. Apa pun akan digambarnya. Bahan apa saja bisa dijadikan alas untuk menuangkan gambarnya. Saat ia ingin menggambar maka ia menggambar dengan bahan yang paling dekat dengannya. Tanah,  bambu, potongan kayu, dan sebagainya. Gambarnya sangat detail dan terlihat hidup seperti pelukis sungguhan.
            Suatu saat tidak jauh dari tempat Kuromu  berdiri, lewat serombongan orang berkuda dan yang paling belakang seekor gajah yang di atasnya sebuah tandu. Kudanya gagah-gagah tidak seperti kuda Pak Sanip, tetangga kampung sebelah, yang kurus tidak terawat karena  kepayahan  menarik beban seharian. Para penunggang kuda tersebut bersenjatakan tombak dan pedang. Rombongan begitu cepat meninggalkan Kuromu dan masuk hutan larangan. Tidak ada seorang pun yang berani masuk hutan tersebut.  
            Ingatan Kuromu yang sangat tajam mampu mengingat kejadian tersebut dengan jelas.   Kemudian  ia mengambil potongan kayu yang cukup datar dan lebar. Dengan arang tangan trampilnya mulai menggores-nggores papan kayu. Mulailah ia melukis kejadian yang baru  dilihatnya tersebut di  atas potongan kayu. Kuda dan gajah dilukisnya dengan detail termasuk para penunggangnya tanpa melupakan perlengkapan yang dipakai mereka.  
            Nun jauh di sana, di istana  kerajaan Takanara telah terjadi kegemparan. Putera mahkota yang masih anak-anak  raib dari istana.  Tampaknya ada yang berkhianat pada Raja Dakanata. Ratu Hania menangis tiada henti. Mengkhawatirkan keselamatan Tokana yang baru berusia 7 tahun di cengkeraman para pengkhianat raja.
            “ Panglima, kerahkan prajurit pilihan ke penjuru negeri. Dan jangan kembali sebelum anakku ditemukan!!!” perintah Raja Dakanata.  Dengan bersenjata lengkap dan kuda-kuda yang paling kuat dimulailah pencarian. Mereka bergerak secepat angin. Tugas di pundak mereka sangat berat, harus menyelamatkan putera mahkota secepat mungkin. Setiap tempat mereka amati dengan cermat dan cepat. Tiada henti mereka mencari.
            “ Kita berhenti di perkampungan terakhir. Mungkin ada tanda-tanda yang mencurigakan sekalian kita istirahat.”
            Tidak berapa lama kemudian sampailah mereka di pinggir hutan larangan. Mereka mendapati rumah Kuromu dengan pintu terbuka. Saat itu Kuromu  di samping rumah    sedang menjemur kayu-kayu bakar yang dikumpulkannya tadi pagi. Tanpa sengaja seorang prajurit melihat lukisan pada sebuah papan kayu yang teronggok di atas tumpukan kayu bakar. Prajurit heran melihat lukisan arang di papan kayu tersebut.
            “ Nak, ini siapa yang melukis, kok bagus sekali?” tanya prajurit kepada Kuromu. Kemudian Kuromu menceritakan kejadian kemarin saat  melintas rombongan kuda dan gajah yang melintas di depan rumahnya.
            Setelah mendengar  penuturan Kuromu, panglima dan pasukannya memutuskan menerobos hutan larangan.   Kuda-kuda mereka tambatkan di rumah Kuromu. Dengan langkah-langkah cepat dan sangat hati-hati mereka mencoba menyisiri hutan. Hutan begitu rimbun seolah tidak ada celah bagi kaki-kaki pasukan pengawal pilihan kerajaan Takanara. Kadang mereka bertemu dengan ular sebesar kaki mereka yang siap melilit mangsanya. Kera-kera berlarian dan berlompatan melihat banyak orang di sekelilingnya.
            Matahari hampir terbenam. Wajah lelah, pakaian basah, tangan dan kaki perih terkena duri seakan terlupakan saat mendengar canda tawa di tengah hutan. Terlihat pasukan pengkhianat sedang berpesta merayakan keberhasilan aksi penculikan putera mahkota. Nampak  putera mahkota sedang duduk di kurungan kayu di tengah-tengah kerumunan pasukan.
            “ Ini kesempatan kita untuk mengalahkan mereka. Pasukan pengkhianat pasti  sangat tidak siap apabila kita serang. Pasukan kita bagi menjadi dua. Pasukan penyerang dan pasukan penyelamat putera mahkota. Masing-masing harus sama cepat. Siaaaap!!!”  kata Panglima sambil membagi pasukannya dengan cepat.
            Tanpa susah payah akhirnya pasukan pengkhianat dapat dilumpuhkan. Putera mahkota selamat tanpa luka sedikitpun. Seisi istana Takanara bergembira mengetahui putera mahkota telah kembali. Sebagai tanda terima kasih, Raja  Dakanata  memerintahkan prajuritnya untuk menjemput Kuromu dan ibunya agar tinggal di istana.  Berkat kepintarannya melukis, akhirnya Kuromu dijadikan sebagai pelukis istana. Setiap kejadian dan peristiwa yang ada  di kerajaan Takanara di lukisnya. Kuromu dan ibunya hidup bahagia di istana selamanya. ( Dwiyanto Susilo)





Sigi, Sigung Penakut

Tampak anak-anak kera, gajah, tupai, rusa, dan babi hutan sedang bermain di tengah hutan.
            “ Siang begini enaknya minum air kelapa muda” kata gajah sambil mendongakkan kepalanya ke arah pohon kelapa.
             “ Ayo siapa yang bisa mengambil kelapa. Tanganku sedang sakit “ kata kera sambil menoleh ke teman-temannya.
            “Aku bisa!!! “ tiba-tiba seekor anak sigung berjalan ke arah mereka. Akan tetapi buru-buru mereka pergi seolah anak sigung hina.
            “ Tidak minum kelapa muda tidak apa-apa “ kata gajah sambil meninggalkan anak sigung tersebut. Teman-teman yang lain mengikutinya. Satu persatu mereka  meninggalkan Sigi sendirian. Sigi sedih melihat kelakuan teman-temannya. Ia sadar, ia memang memiliki kekurangan. Dirinya sangat penakut. Pada saat merasa takut, tanpa sadar dia mengeluarkan bau yang menusuk hidung. Hal itu yang membut teman-temannya tidak suka apabila ia ada di dekat mereka.
            “ Tolong…tolong…!!!! “ Tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari rerimbunan semak. Sigi dengan cepat berlari menuju arah teriakan minta tolong tersebut. Dilihatnya Riri, rusa sahabatnya dalam sergapan harimau. Sementara teman-teman bermainnya yang lain tidak bisa berbuat apa-apa. Sigi pun tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi ia ingin menolong sahabatnya dari ancaman harimau. Pelan tapi pasti, ia kemudian berjalan ke arah harimau sampai hanya beberapa meter darinya. Tanpa ia sadari, ia mengeluarkan bau menyengatnya.
            Harimau mencium bau tidak sedap menusuk hidungnya. Beberapa saat  ia dapat menahan bau tersebut. Akan tetapi ia kemudian tidak betah lama-lama di tempat tersebut . Akhirnya harimau meninggalkan buruannya. Riri akhirnya selamat dari bahaya.
            “ Sigi maafkan aku. Selama ini aku selalu megejekmu karena bau tubuhmu itu. Maukah kamu menjadi sahabatmu? “ kata Riri dengan mata berkaca-kaca. Perbuatan Riri disusul oleh gajah, kera, dan teman-teman bermainnya yang lain.
            “ Aku sangat senang kalian telah menerimaku sebagai sahabat. Selama ini aku kesepian tidak ada yang mau berteman denganku. “

            “ Sudahlah Sigi kami semua adalah teman-temanmu, ayo kita bermain.” Akhirnya Sigi mempunyai teman. Ia tidak kesepian lagi. Mereka terlihat bermain, bercanda, dan tertawa setiap hari.

Selasa, 17 November 2015

SURAT BUAT IBU


Bruk!!! Prangggg!!! Ember tempat cucian gelas dan piring jatuh ke lantai. Isinya berhamburan. Gelas, piring, dan mangkok pecah berkeping-keping. Detak jantungku seakan berhenti, Telingaku seakan mendengar detak jantungku detak demi detak. Kalau aku bercermin, wajahku mungkin seperti kain putih. Pucat. Takut dimarahi Ibu. Bayangkan saja. Hari itu aku mencuci sekitar satu lusinan perlengkapan makan siang. Maklum keluargaku termasuk keluarga besar. Adikku ada tiga dan kakak satu. Setiap selesai  makan aku mencuci semua bekas makan orang tuaku dan adik-adikku bersama kakakku. Saat itu hujan baru saja berhenti. Lantai yang menghubungkan rumah dengan tempat aku mencuci piring tentu saja basah. Sudah basah berlumut lagi. Sepertinya lantai depan rumah tersebut saat musim penghujan selalu berlumut. Padahal aku dan kakaku selalu bergantian membersihkan lumut yang menempel dengan menggunakan scraf. Mendengar suara piring dan gelas pecah, ibu tergopoh-gopoh menghampiriku.
 “ Hati-hati kalau hujan, lantainya sangat licin. Ibu saja yang mengambil pecahan-pecahannya,” kata Ibu sambil mengambili pecahan-pecahan yang berserakan di lantai.  Tidak ada tanda-tanda di wajahnya apabila Ibu marah. Syukurlah, Ibu tidak memarahiku. Aku tahu. Ibu orangnya cerewet sebenarnya. Apalagi apabila ada anaknya yang tidak menuruti perintahnya. Beliau tidak berhenti ngomong sebelum anaknya menuruti perintahnya. Aku pun diam saja sambil mengambil pecahan-pecahan piring dan gelas yang ada di sekitarku. Aku ingat, saat Pak De dari Tegal atau yang dari Bekasi dan Kerawang pulang ke Gombong, kami pasti disuruh menemui mereka di rumah Simbah.
“ Pak De dan Bu De Bangi ke sini lho. Kalian ke Simbah dulu. Nanti setelah selesai masak, Ibu menyusul.”kata Ibu saat Pak De yang dari Tegal ke Gombong. Rumah simbah dengan rumah kami sebenarnya tidak jauh. Hanya melewati makam desa yang kalau malam, sangat gelap. Maklum saat itu listrik belum terpasang menyeluruh di desaku.  Kami yang sedang asyik bermain bersama teman-teman kadang menolak menemui mereka. Nah, Ibu pasti akan lama untuk menceramahi kami yang bandel ini. Saat kami ada yang sakit, Ibu pasti akan mengomel apabila kami malas minum obat atau menangis tidak bisa menahan sakit. Aku masih ingat, saat kuku ibu jari kaki kakakku membusuk gara-gara saat berkemah memakai sepatu yang basah terus menerus. Tiap sore hari sebelum mandi, ibu merendam kaki kakakku tersebut dengan air hangat agar kukunya cepat terlepas. Kakak menahan tangis untuk menghindari omelan Ibu.
 Apakah Ibu masih ingat peristiwa tersebut? Apakah hari ini Ibu sehat? Saya harap Ibu senantiasa diberi karunia kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Saya tidak bisa selalu menemani Ibu. Jarak Blora Gombong cukup jauh Bu. Semoga Ibu  tidak merasa sepi semenjak kepergian Bapak. Ibu, saat aku pulang lebaran 2011 kemarin aku agak kaget. Rambut Ibu sudah memutih semua. Mungkin Ibu agak kaget, hidup tanpa Bapak. Mungkin juga Ibu merasa ada beban yang berkaitan dengan kami, anak-anakmu, yang belum menjadi orang seperti yang diharapkan Bapak sama Ibu. Maafkan kami Ibu. Ibu, terus terang aku sangat rindu bertemu denganmu. Sudah hampir satu tahun kita tidak bertemu. Aku terakhir bertemu denganmu saat akan wisuda S2ku. 
Kalau tidak salah  aku membawa anak-anaku ke Gombong terakhir saat anaknya Dik Agus          berumur satu bulan. Saat itu anak ketigaku baru bisa berjalan. Azka, anak nomer tigaku, latihan berlari dari ruang depan ke ruang belakang sambil mengambil jajanan di meja tamu. Sekarang sudah bisa berlarian kesana kemari dan mau masuk TK Kecil. Kedua kakaknya juga sering menanyakan bagaimana kabarnya Simbah. Mereka kalau liburan kerapkali minta liburan di Gombong. Bisa main ke Waduk Sempor atau benteng Van der Wijk kata mereka. Kalau di Blora mereka sudah pada jenuh. Blora obyek wisatanya belum dikelola dengan baik Bu. Lebaran kemarin aku juga belum bisa membawa anak dan istriku mudik ke Gombong. Anak-anak baru saja sembuh dari sakit. Aku dan istriku khawatir membawa mereka melewati  perjalanan yang melelahkan. Terutama anak ketigaku. Ia akan minta pulang dan nangis apabila tubuhnya sudah merasa lelah. Selain itu keuangan kami sedang kacau balau. Untuk pulang ke Gombong paling tidak membutuhkan uang sebanyak satu jutaan. Bagi orang lain mungkin sedikit. Tetapi bagi kami, saat itu uang sejumlah itu sangat berharga.
Oh iya Bu, maafkan aku Ibu. Saat memperbaiki makam Bapak aku hanya menyumbang sedikit. Aku tahu Ibu pasti akan menjual sebagian hasil panen padi untuk menambal biaya keperluan tersebut. Sekali lagi aku minta maaf Bu. Anakku baru keluar dari rumah sakit sehingga kami tersedot untuk itu. Terus terang, aku sangat malu kepada Ibu. Dulu, saat kuliah aku pasti minta uang ke Ibu apabila uang bulanan dari Bapak habis. Bapak berpesan padaku uang bulanan hanya sekali per bulan. Saat aku kepepet tentu saja aku hanya bisa meminta kepada Ibu. Walaupun ibu pasti akan kebingungan pada awalnya tetapi pasti aku akan dapat uang saku dari Ibu. Hasil menjual satu karung padi persediaan di lumbung tentunya. Ibu…Ibu, ada saja akal Ibu. Untuk membantu Bapak hampir tiap malam Ibu membungkus kering kentang untuk dijual di warung-warung dan kantin sekolah. Yah, Ibu memang pintar memasak. Kadang Ibu dimintai tolong membuatkan roti apabila ada orang yang hajatan. Bahkan Ibu menjadi juru masaknya.  Walaupun hanya tamatan SD tetapi Ibu keterampilannya seabrek. Ibu sempat juga mengambil kursus menjahit saat kami bertiga kuliah. Terus terang kami termotivasi semangat Ibu untuk terus belajar.

Ibu, jangan bosan membaca surat-suratku ya. Liburan Natal dan Tahun Baru sebenarnya kami ingin berlibur ke Gombong tetapi Hasna harus persiapan untuk mengikuti Pesta Siaga sebagai wakil sekolah. Semoga saat ada waktu dan kesempatan yang lebih luang kami bisa berlibur di Gombong untuk sejenak menemani dan menikmati lezatnya masakan Ibu. Bagaimana kabarnya Mas Bambang? Dik Widi, dik Agus dan dik Herman? Semoga sehat wal afiat dan selalu dalam lindungan-Nya. Amien. Surat dari Blora sekian dulu Ibu. Salam dari Dik Fitri, Faiq, Hasna, dan si kecil Azka. Mohon doanya semoga kami lancar dalam berusaha dan senantiasa  dalam lindungan-Nya. Jaga kesehatan Ibu. Tidur dan makan yang cukup.  Tidak usah berpikir yang aneh-aneh. Kami tidak usah dipikirkan tetapi mohon doanya saja. Selamat Hari Ibu. Wassalam. 


Minggu, 15 November 2015

B U K I T P R


“ Baiklah anak-anak, untuk memperjelas keterangan Ibu tadi, silahkan kalian mengerjakan tugas halaman 24. Dikumpulkan pada pertemuan kita yang akan datang!”  Anak-anak kelas IV SD Tunas Bangsa memperhatikan apa yang ditugaskan gurunya sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas bersiap-siap pulang.
            “ Gus, nanti dikerjakan bareng di rumahku, habis makan siang,” ajak Anto pada seorang anak bertubuh gendut.
            “ Wah, besok-besok saja, aku mau main layang-layang.”
            Beberapa saat kemudian terlihat anak-anak berhamburan dari dalam kelas menuju ke rumahnya masing-masing.
            “ Agus, PRmu sudah dikerjakan? Tiap hari main layang-layang terus!” kata ibunya saat melihat Agus keluar rumah sambil menenteng layang-layangnya.
            Agus menjawab sekenanya pertanyaan ibunya. Ia terus saja ngeloyor menuju lapangan di komplek perumahannya. Ibunya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya tersebut.  Bila sudah membawa layang-layangnya,  bisa seharian di lapangan. Saat matahari terbenam ia baru pulang.
            “ Agus, masak tiap hari seharian main layang-layang.  Memangnya tidak punya PR? Sebenarnya kamu harus mulai bisa membagi waktumu, antara main, belajar, dan istirahat,”  kata Ibunya saat makan bersama.
            “ PRnya sepertinya sangat mudah bagi Agus. Tidak sampai setengah jam pasti selesai,” kata Agus sambil mengambil daging ayam yang paling gemuk di depannya.
            “ Wah berarti anak Bapak pintar. Tapi, PR itu dikerjakan bukan hanya dilihat. Dulu, saat Bapakmu masih sekolah, Bapak sukanya menggampangkan setiap tugas dari Bapak dan Ibu Guru. Bapak merasa tugas matematika yang ditugaskan guru sangat mudah. Ternyata saat dikerjakan tidak semudah seperti yang Bapak kira. Membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya. Coba hitung, kalau satu soal saja membutuhkan waktu setengah jam, berapa jam waktu untuk menyelesaikan sepuluh soal? Bagaimana bila dalam sehari  ada PR dari  2 atau 3 pelajaran?” kata Bapaknya mencoba mengingatkan.     
            “ Alah, Pak….Pak…Agus mau ke kamar, belajar,” katanya sambil meninggalkan Bapak dan Ibunya yang masih makan. Sambil tiduran Agus mencoba membuka-buka bukunya. Perut yang kenyang dan tubuh yang lelah membuat matanya tidak bisa diajak membaca buku. Buku yang dipegangnya akhirnya jatuh menimpa wajahnya. Agus pun melayang ke alam mimpi.
            Satu hari, dua hari, tiga hari, sepulang sekolah Agus selalu bermain layang-layang sampai matahari tenggelam. Sampai pada suatu malam ia terkejut melihat buku-buku catatannnya. Ternyata besok pelajaran Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris yang semua ada PRnya.
            “ Hukumannya bagi yang tidak mengerjakan PR adalah berdiri di depan kelas.,” kata guru Matematika yang juga wali kelasnya tersebut.  Dengan terpaksa malam itu juga ketiga PR tersebut harus selesai. Saat kentongan dari gardu sebelah rumah dipukul 12 kali, Agus baru selesai mengerjakan PRnya. Tanpa membereskan meja belajarnya, ia membungkus tubuhnya dengan selimut merah tebal yang selalu setia menemaninya berjalan-jalan di alam mimpi.
            Keesokan pagi Ibunya dengan susah payah membangunkan anak semata wayangnya tersebut. Setelah mandi dan sarapan pagi dengan wajah menahan kantuk, Agus berjalan menyusuri trotoar menuju sekolahnya.
            “ Waduh, enak juga jadi tukang becak. Jam-jam segini masih molor di atas becak,” gumam batinnya saat melintasi pangkalan becak.
            Dua jam pelajaran dilaluinya dengan lancar. Tetapi saat pelajaran Matematika, Agus tidak kuasa menahan kantuknya. Seperti biasa Bu Ami menyuruh murid-muridnya mengerjakan PR di depan kelas, urut berdasar tempat duduknya.
            “ Wah, aku masih lumayan lama,” gumam Agus sambil meletakkan kepalanya di atas tumpukkan kedua tangannya yang dijadikan bantal. Tanpa ia sadari, ia pun tertidur.
            “ Nomer 19 siapa?” tanya Bu Ami.
            “ Ha…Ha….Ha…Agus Bu!!!” serentak seisi kelas menjawab pertanyaan gurunya.  Bu Ami langsung menatap tempat duduk Agus. Dilihatnya ia masih tertidur dengan pulasnya. Muka Bu Ami merah padam menahan marah.
            “ Agus, maju!”
            Teriakan Bu Ami sontak mengagetkan Agus. Ia pun kebingungan. Joko, teman sebangkunya, mengingatkannya akan perintah Bu Ami tadi. Agus pun maju dengan hati berdebar-debar akibat kesalahannya. Mukanya beraneka warna menahan malu.
            “ Agus, kenapa kamu sampai ketiduran? Apa kamu ikut siskamling tadi malam?” tanya Bu Ami dengan lembut tanpa terlihat marah sedikitpun. Agus pun menceritakan kerja lemburnya tadi malam.
            “ Makanya jangan menunda-nunda mengerjakan sesuatu. Tiap  pulang sekolah, kerjakan dulu PRnya baru bermain. Sedikit-sedikit nanti kalau bertumpuk menjadi bukit lho. Ibu harap, kejadian ini  tidak diulangi kembali. Ya sudah, sekarang kerjakan nomer 19!”
            “ Baik Bu.”
            Sejak saat itu Agus menjadi sadar. Sesuatu yang sedikit apabila dikumpulkan akan menjadi banyak. PR yang sedikit apabila dikumpulkan akan menjadi bukit PR yang mungkin ia sendiri tidak akan sanggup mengerjakan semuanya.